Ilmu tafsir berkembang dalam sejarah
Islam melalui lima tahapan utama yang disusun berdasarkan sumber dan pelakunya.
Tiap tahapan memiliki karakteristik khas dan peranan penting dalam memperluas
dan memperdalam pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.
1. Tafsir Al-Qur'an dengan Al-Qur'an
Pada tahap ini, penafsiran dilakukan menggunakan
ayat Al-Qur'an lain. Al-Qur'an menjelaskan sebagian ayat-ayatnya secara
langsung melalui ayat lain yang lebih jelas atau lebih rinci. Ini adalah metode
paling otentik dan paling kuat karena berasal dari wahyu itu sendiri.
🔹
Contoh:
- Penjelasan
dari Surah Al-Haqqah tentang kalimat "الْقَارِعَةُ" dijelaskan melalui ayat "يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ
كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ".
- Dalam
Surah المعارج: 19–21, kalimat "هَلُوعًا" dijelaskan secara langsung setelahnya dengan kalimat
"إِذَا
مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا".
Jadi
Al-Qur’an menjelaskan dirinya sendiri sebagai cara pertama dalam ilmu tafsir,
dan ini memiliki banyak contoh dalam mushaf.
2. Tafsir Nabi ﷺ
Nabi Muhammad ﷺ memberikan penjelasan atas ayat-ayat Al-Qur’an, terutama yang
bersifat global (mujmal) dan membutuhkan rincian.
🔹
Contoh:
- Surah
Al-Baqarah: 43: “وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ”, dijelaskan Nabi ﷺ dengan tata cara salat, jumlah rakaat, waktu-waktu salat,
dll.
- Hadis:
“صلوا كما رأيتموني أصلي” (Shalatlah kalian sebagaimana
kalian melihat aku shalat).
- Tafsir
ayat: "وَلِلذِّكْرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ"
dijelaskan dalam hadis-hadis tentang hukum warisan.
Jadi
Sunnah Nabi ﷺ merupakan sumber tafsir kedua yang memberikan rincian terhadap
makna ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat umum atau global.
3. Tafsir Para Sahabat
Setelah wafatnya Nabi ﷺ, para sahabat seperti Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Ali bin Abi Thalib
dan lainnya melanjutkan tradisi tafsir. Mereka menafsirkan berdasarkan:
- Apa
yang mereka dengar dari Nabi ﷺ,
- Pemahaman
mendalam terhadap bahasa Arab,
- Pengetahuan
mereka tentang sebab-sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul).
🔹
Contoh:
- Ibn
Abbas menafsirkan ayat: "وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ
مَسْجِدٍ"
sebagai berwudhu sebelum salat.
- Ibn
Mas’ud dalam Surah النجم: 10:
"فَأَوْحَى إِلَىٰ عَبْدِهِ مَا أَوْحَى", menjelaskan bahwa suara malaikat
seperti rantai besi di atas batu.
Jadi
tafsir
sahabat merupakan tahap ketiga yang penting karena mereka memiliki pengalaman
langsung dengan wahyu dan konteks sejarahnya.
4. Tafsir Para Tabi'in
Generasi setelah sahabat (tabi'in)
mempelajari tafsir langsung dari sahabat. Mereka berusaha menjaga keaslian
pemahaman para sahabat dan juga menambahkan penjelasan sesuai dengan konteks
zaman mereka.
🔹
Contoh:
- Tafsir
ayat الطور: 21:
"وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ...",
ditafsirkan oleh Sa'id bin Jubair bahwa Allah akan menyatukan anak-anak
beriman dengan orang tuanya di surga walaupun amal mereka berbeda.
- Juga
disebutkan bahwa sebagian tabi'in seperti Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah
sangat berpengaruh dalam bidang tafsir.
Jadi
Tafsir
tabi'in adalah pelestarian dan pengembangan dari tafsir sahabat yang menjadi
penghubung generasi awal dengan perkembangan ilmu tafsir berikutnya.
5. Tafsir Para Ulama
Tahap ini merupakan pengkodifikasian
ilmu tafsir dalam bentuk kitab. Ulama menggunakan pendekatan yang lebih
sistematis dengan merujuk pada Al-Qur'an, Sunnah, atsar sahabat dan tabi'in,
serta kaidah-kaidah kebahasaan dan rasional (ijtihadiyah).
🔹
Ciri Khas:
- Penekanan
pada aspek bahasa Arab, nahwu, balaghah, dan ushul fiqh.
- Penafsiran
yang mendalam dan penuh analisa.
- Dibukukan
dalam berbagai karya besar tafsir.
🔹
Tokoh-tokoh terkenal:
- Muhammad
bin Jarir Ath-Thabari
- Abu
Hayyan Al-Andalusi
- Jalaluddin
As-Suyuthi
- Fakhruddin
Ar-Razi
- Ibnu
Katsir
- Al-Qurtubi
Jadi
tahapan
ini adalah era kematangan ilmu tafsir yang dibangun di atas fondasi kuat dari
Al-Qur’an, Sunnah, atsar sahabat dan tabi’in, serta ijtihad para ulama.
Kesimpulan
Perkembangan ilmu tafsir melalui lima
tahap utama ini mencerminkan proses ilmiah dan spiritual dalam memahami wahyu
Allah:
1.
Tafsir Al-Qur’an
dengan Al-Qur’an – sumber paling murni.
2.
Tafsir Nabi ﷺ – penjelasan wahyu oleh yang menerima wahyu.
3.
Tafsir Sahabat
– hasil interaksi langsung dengan Rasulullah ﷺ.
4.
Tafsir Tabi'in
– warisan dari sahabat dan pengembangan kontekstual.
Tafsir Ulama – kodifikasi dan elaborasi ilmiah tafsir.