Minggu, 29 Juni 2025

Makna Takbîratul Ihrâm dalam Shalat dan Makna Lafal “Allâhu Akbar”

 Abstrak

Takbîratul ihrâm merupakan bagian integral dalam ibadah shalat yang menandai dimulainya komunikasi spiritual seorang hamba dengan Tuhannya. Ungkapan “Allâhu Akbar” tidak sekadar kalimat pembuka, melainkan memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam. Artikel ini bertujuan mengkaji makna takbîratul ihrâm dari sisi bahasa, fikih, serta maknawi, dengan pendekatan tafsir dan hadis, guna memperkaya pemahaman umat Islam dalam melaksanakan shalat secara lebih khusyuk.

Pendahuluan

Shalat sebagai ibadah mahdhah memiliki rukun dan tata cara yang telah ditetapkan syariat Islam. Salah satu rukun shalat adalah takbîratul ihrâm. Meski secara lahiriah hanya berupa lafaz singkat "Allâhu Akbar", hakikatnya menyimpan makna yang luas dalam konteks ketuhanan dan penghambaan. Pentingnya memahami makna ini akan berdampak pada kekhusyukan dan kualitas ibadah seseorang.

Makna Bahasa dan Istilah Takbîratul Ihrâm

قال ابن منظور في لسان العرب: التَّكْبِيرُ: تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى، يُقَالُ: كَبَّرَ يُكَبِّرُ تَكْبِيرًا، وَقَوْلُهُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، أَيْ: أَعْظَمُ

Secara bahasa, takbîratul ihrâm terdiri dari dua kata: takbîrah, bentuk mashdar dari fi'il kabbara, yang berarti membesarkan atau mengagungkan, dan ihrâm, yang bermakna "pengharaman" atau "masuk ke dalam keadaan suci dan larangan tertentu"¹. Dalam konteks shalat, istilah ini berarti takbir yang mengharamkan hal-hal yang sebelumnya halal, seperti berbicara, makan, atau berpaling dari kiblat.

Landasan Syariat Takbîratul Ihrâm

Rasulullah SAW bersabda:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

"Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah salam."²

Dari hadis ini, takbîratul ihrâm diposisikan sebagai pembuka yang sah bagi shalat, sehingga tanpanya, shalat tidak dianggap dimulai. Ulama fikih sepakat bahwa takbîratul ihrâm adalah rukun shalat yang tidak dapat digantikan atau ditinggalkan³.

Makna Lafaz “Allâhu Akbar”

Lafaz Allâhu Akbar secara harfiah berarti "Allah Mahabesar". Kata Akbar adalah bentuk af‘al al-tafdhîl yang berarti "lebih besar", namun dalam konteks ini bukanlah pembandingan secara literal, melainkan bentuk superlatif absolut: _tiada yang lebih besar dari Allah_.

Makna ini bukan hanya pernyataan akidah, tetapi juga pengakuan eksistensial bahwa Allah lebih besar dari segalanya—lebih besar dari urusan dunia, ego, dan segala kekhawatiran. Maka ketika seorang Muslim mengucapkan "Allâhu Akbar" dalam takbîratul ihrâm, ia sesungguhnya sedang melepaskan diri dari dunia dan menghadap secara total kepada Allah.

Implikasi Spiritual Takbîratul Ihrâm

Mengucapkan takbîratul ihrâm mengandung arti bahwa seseorang telah “masuk” ke hadapan Sang Khalik. Imam al-Ghazali menyebut bahwa saat takbir, hati harus ikut membesarkan Allah, bukan hanya lisan. Kesadaran ini membentuk sikap khusyuk, tunduk, dan ketundukan total dalam setiap gerakan dan bacaan shalat.

Pernyataan “Shalat adalah mi’rajnya orang mukmin” (الصلاة معراج المؤمن) menunjukkan bahwa shalat adalah sarana spiritual tertinggi bagi seorang mukmin untuk bertemu dan berdialog dengan Allah . Sebagaimana Nabi Muhammad naik ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj dan menerima perintah shalat secara langsung dari Allah, maka seorang mukmin pun—dalam shalatnya—menapaki jalan ruhani yang serupa: meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.

Takbîratul ihrâm adalah gerbang awal yang menandai masuknya seorang hamba ke dalam shalat. Ketika seseorang mengucapkan "Allâhu Akbar", ia secara sadar meninggalkan urusan duniawi, dan masuk ke dalam kehadiran ilahi (hadrah ilahiyyah). Itulah sebabnya dinamakan “ihrâm” (pengharaman), karena dari titik itu, ia tidak boleh lagi melakukan apa pun selain yang disyariatkan dalam shalat: berbicara dunia, makan, bergerak bebas, dan sebagainya menjadi haram.

Sama seperti ihram dalam haji mengharamkan hal-hal tertentu karena telah memasuki wilayah suci, maka takbîratul ihrâm mengharamkan dunia bagi seorang mukmin selama ia berdiri dalam shalatnya.

Kalimat "Allâhu Akbar" bukan hanya pembuka shalat, tetapi juga pengakuan bahwa tiada yang lebih besar dari Allah, termasuk nafsu, harta, pekerjaan, dan dunia. Maka saat takbir, ia sebenarnya mengangkat ruhnya, melepaskan beban dunia, dan mulai menaiki tangga mi’raj spiritual.

Dalam setiap gerakan dan bacaan shalat setelah takbîratul ihrâm, seorang mukmin semakin dekat kepada Allah. Dalam rukuk ia merendahkan diri. Dalam sujud ia meletakkan wajahnya di tanah, posisi paling rendah, namun dalam hadis dikatakan: “Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah saat ia sujud.” (HR. Muslim). Dan semua itu berawal dari takbîratul ihrâm.

Kesimpulan

Takbîratul ihrâm bukan sekadar lafaz pembuka shalat, namun merupakan pernyataan penghambaan dan pengakuan atas kebesaran Allah. Memahami makna “Allâhu Akbar” dalam dimensi bahasa dan spiritual akan memperkuat nilai ibadah shalat sebagai sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan taqarrub ilallah.

Catatan Kaki

1.      Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab, jld. 5, hlm. 42.

2.      Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, Hadis no. 61.

3.      Al-Nawawi, Al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, jld. 3, hlm. 250.

4.      Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyāf, jld. 1, hlm. 14.

5.      Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, jld. 1, hlm. 221.

     6.   Al-Ghazali, Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, jld. 1, hlm. 160.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perkembangan Ilmu Tafsir Berdasarkan Lima Tahapan Utama

Ilmu tafsir berkembang dalam sejarah Islam melalui lima tahapan utama yang disusun berdasarkan sumber dan pelakunya. Tiap tahapan memiliki k...