Abstrak
Takbîratul ihrâm merupakan bagian
integral dalam ibadah shalat yang menandai dimulainya komunikasi spiritual
seorang hamba dengan Tuhannya. Ungkapan “Allâhu Akbar” tidak sekadar
kalimat pembuka, melainkan memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam.
Artikel ini bertujuan mengkaji makna takbîratul ihrâm dari sisi bahasa, fikih,
serta maknawi, dengan pendekatan tafsir dan hadis, guna memperkaya pemahaman
umat Islam dalam melaksanakan shalat secara lebih khusyuk.
Pendahuluan
Shalat sebagai ibadah mahdhah memiliki
rukun dan tata cara yang telah ditetapkan syariat Islam. Salah satu rukun
shalat adalah takbîratul ihrâm. Meski secara lahiriah hanya berupa lafaz
singkat "Allâhu Akbar", hakikatnya menyimpan makna yang luas dalam
konteks ketuhanan dan penghambaan. Pentingnya memahami makna ini akan berdampak
pada kekhusyukan dan kualitas ibadah seseorang.
Makna Bahasa dan Istilah Takbîratul
Ihrâm
قال ابن منظور في لسان العرب: التَّكْبِيرُ:
تَعْظِيمُ اللَّهِ تَعَالَى، يُقَالُ: كَبَّرَ يُكَبِّرُ تَكْبِيرًا، وَقَوْلُهُ:
اللَّهُ أَكْبَرُ، أَيْ: أَعْظَمُ
Secara bahasa, takbîratul ihrâm
terdiri dari dua kata: takbîrah, bentuk mashdar dari fi'il kabbara,
yang berarti membesarkan atau mengagungkan, dan ihrâm, yang bermakna
"pengharaman" atau "masuk ke dalam keadaan suci dan larangan
tertentu"¹. Dalam konteks shalat, istilah ini berarti takbir yang
mengharamkan hal-hal yang sebelumnya halal, seperti berbicara, makan, atau
berpaling dari kiblat.
Landasan Syariat Takbîratul Ihrâm
Rasulullah
SAW bersabda:
مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ
الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
"Kunci
shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbir, dan penutupnya adalah
salam."²
Dari hadis ini, takbîratul ihrâm
diposisikan sebagai pembuka yang sah bagi shalat, sehingga tanpanya, shalat
tidak dianggap dimulai. Ulama fikih sepakat bahwa takbîratul ihrâm adalah rukun
shalat yang tidak dapat digantikan atau ditinggalkan³.
Makna Lafaz “Allâhu Akbar”
Lafaz Allâhu Akbar secara
harfiah berarti "Allah Mahabesar". Kata Akbar adalah bentuk af‘al
al-tafdhîl yang berarti "lebih besar", namun dalam konteks ini
bukanlah pembandingan secara literal, melainkan bentuk superlatif absolut:
_tiada yang lebih besar dari Allah_⁴.
Makna ini bukan hanya pernyataan
akidah, tetapi juga pengakuan eksistensial bahwa Allah lebih besar dari
segalanya—lebih besar dari urusan dunia, ego, dan segala kekhawatiran. Maka
ketika seorang Muslim mengucapkan "Allâhu Akbar" dalam takbîratul
ihrâm, ia sesungguhnya sedang melepaskan diri dari dunia dan menghadap secara
total kepada Allah⁵.
Implikasi Spiritual Takbîratul Ihrâm
Mengucapkan takbîratul ihrâm mengandung
arti bahwa seseorang telah “masuk” ke hadapan Sang Khalik. Imam al-Ghazali
menyebut bahwa saat takbir, hati harus ikut membesarkan Allah, bukan hanya
lisan⁶. Kesadaran ini
membentuk sikap khusyuk, tunduk, dan ketundukan total dalam setiap gerakan dan
bacaan shalat.
Pernyataan “Shalat adalah mi’rajnya
orang mukmin” (الصلاة
معراج المؤمن) menunjukkan
bahwa shalat adalah sarana spiritual tertinggi bagi seorang mukmin untuk
bertemu dan berdialog dengan Allah ﷻ. Sebagaimana Nabi Muhammad ﷺ naik ke langit dalam peristiwa Isra’ Mi’raj dan menerima
perintah shalat secara langsung dari Allah, maka seorang mukmin pun—dalam
shalatnya—menapaki jalan ruhani yang serupa: meninggalkan dunia dan mendekatkan
diri kepada Allah.
Takbîratul ihrâm adalah gerbang awal
yang menandai masuknya seorang hamba ke dalam shalat. Ketika seseorang
mengucapkan "Allâhu Akbar", ia secara sadar meninggalkan urusan
duniawi, dan masuk ke dalam kehadiran ilahi (hadrah ilahiyyah). Itulah sebabnya
dinamakan “ihrâm” (pengharaman), karena dari titik itu, ia tidak boleh lagi
melakukan apa pun selain yang disyariatkan dalam shalat: berbicara dunia,
makan, bergerak bebas, dan sebagainya menjadi haram.
Sama seperti ihram dalam haji
mengharamkan hal-hal tertentu karena telah memasuki wilayah suci, maka
takbîratul ihrâm mengharamkan dunia bagi seorang mukmin selama ia berdiri dalam
shalatnya.
Kalimat "Allâhu Akbar" bukan
hanya pembuka shalat, tetapi juga pengakuan bahwa tiada yang lebih besar
dari Allah, termasuk nafsu, harta, pekerjaan, dan dunia. Maka saat takbir,
ia sebenarnya mengangkat ruhnya, melepaskan beban dunia, dan mulai
menaiki tangga mi’raj spiritual.
Dalam setiap gerakan dan bacaan shalat
setelah takbîratul ihrâm, seorang mukmin semakin dekat kepada Allah. Dalam rukuk ia merendahkan diri. Dalam sujud ia meletakkan
wajahnya di tanah, posisi paling rendah, namun dalam hadis dikatakan: “Posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah
saat ia sujud.” (HR.
Muslim). Dan
semua itu berawal dari takbîratul ihrâm.
Kesimpulan
Takbîratul ihrâm bukan sekadar lafaz
pembuka shalat, namun merupakan pernyataan penghambaan dan pengakuan atas
kebesaran Allah. Memahami makna “Allâhu Akbar” dalam dimensi bahasa dan
spiritual akan memperkuat nilai ibadah shalat sebagai sarana tazkiyatun nafs
(penyucian jiwa) dan taqarrub ilallah.
Catatan Kaki
1.
Ibn Manzhur, Lisān al-‘Arab,
jld. 5, hlm. 42.
2.
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud,
Hadis no. 61.
3.
Al-Nawawi, Al-Majmū’ Syarh
al-Muhadzdzab, jld. 3, hlm. 250.
4.
Al-Zamakhsyari, Al-Kasysyāf,
jld. 1, hlm. 14.
5.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah,
jld. 1, hlm. 221.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar