Sabtu, 28 Juni 2025

Ta’awwudz


Secara etimologi (bahasa) lafal ta’awwudz berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata Ta’awwadza-Yata’awwadzu-Ta’awwudzan yang berarti membaca atau mengucapkan kalimat yang bermakna perlindungan. Secara bahasa kita bisa memahami bahwa setiap orang (tanpa melihat pada suku, agama, bahasa, dan bangsa) ketika mengucapkan kalimat tertentu, yang pasti dengan bahasa, cara dan menurut keyakinan (agama) masing-masing, yang berisi tentang permohonan perlindungan kepada sesuatu dari sesuatu yang lain maka bisa dikatakan ta’awwudz.

Ada istilah lain yang digunakan untuk menyebut Ta’awwudz yang mungkin lebih familiar di telinga kebanyakan masyarakat kita yaitu Isti’adzah yang berasal dari kata Ista’aadza-Yasta’iidzu-Isti’aadzatan yang berarti meminta atau memohon perlindungan kepada sesuatu terhadap sesuatu yang lain yang lebih kuat, agung, dan besar. Secara makna (materinya), antara lafal Ta’awwudz dan Isti’adzah tidak jauh berbeda, tetapi secara bahasa berbeda. Pertama wazan (pola akar kata) dan struktur dari kedua kalimat tersebut jelas berbeda. Kedua, Ta’awwudz penekanannya hanya kepada pengucapan kalimat perlindungan. Sedangkan Isti’adzah penekanannya lebih kepada meminta perlindungan kepada sesuatu yang jauh lebih tinggi derajat dan kekuasaannya.

Dari sini mari kita pahami lafal Ta’awwudz atau Isti’adzah secara terminologi dan dalam konteks syariah Islam. Menurut istilah agama Islam Ta’awwudz atau Isti’adzah adalah meminta perlindungan kepada Allah SWT dari godaan syaitan yang terkutuk yaitu dengan mengucapkan kalimat: “A’udzu billahi Minasy-syaitaanir-rajiim” (aku berlindung kepada Allah dengan godaan setan yang terkutuk). Tetapi yang perlu diingat bahwa dengan pengertian tersebut di atas, bukan berarti seseorang misalnya mengucapkan dalam bahasa Inggris “I seek refuge with Allah from syaitan the out cast (the cursed one)”, tidak bisa dikatakan telah melakukan Isti’adzah atau Ta’awwudz. Hal ini dikarenakan Islam diturunkan di Arab dan memakai bahasa mereka dalam penyampaian risalah (misi)-nya. Oleh karena itu kita tidak bisa memisahkan antara bahasa yang dimaksud agama dan bahasa Arab murni, sekalipun keduanya terikat dalam jalinan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.

Dan sebagai buktinya adalah ternyata lafal Ta’awwudz atau Isti’adzah yang pernah dicontohkan Nabi SAW dengan bermacam-macam bentuk, tetapi intinya sama yaitu meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Hal ini semakin memperjelas bahwa masalah bentuk dan bahasa kalimat Isti’adzah tidak signifikan. Yang penting materinya sesuai dengan syariah (meminta perlindungan hanya kepada Allah semata).

Pembahasan tentang Ta’awwudz, terdapat beberapa bahasan, diantaranya:

Ulama bersepakat bahwa membaca Ta’awwudz dianjurkan bagi setiap orang yang mau membaca Al-Qur'an. Dasar nash (dalil) yang dipakai adalah QS. An-Nahl (16): 98, yang artinya:

 

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

 

"Maka apabila engkau membaca Al-Qur'an maka mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk."

Perbedaan pendapat terjadi ketika memahami kata فاستعذ (fas-ta’idz / mintalah perlindungan) yang berbentuk Amar (perintah) yang terdapat pada ayat tersebut apakah menunjukkan pada Nadb (anjuran yang sifatnya tidak wajib) atau Wujub (suatu keharusan, wajib).

Jumhur (mayoritas ulama) dan Ahlul Ada’ atau para praktisi Qiraat (bacaan) berpendapat bahwa Amar (kata perintah) yang terdapat pada ayat tersebut menunjukkan Nadb (sunnah) artinya membaca lafal Ta’awwudz sebelum membaca Al-Qur’an tidak merupakan sebuah keharusan. Artinya tidak berdosa bagi orang yang tidak membacanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa membaca lafal Ta’awwudz setiap hendak membaca Al-Qur’an hukumnya Wujub (wajib), bahkan ada yang berpendapat bahwa cukup membacanya sekali saja seumur hidup.

Lafal yang banyak digunakan oleh para Qurra (ahli bacaan) adalah: “A’udzu billahi minasy-syaitaanir-rajiim”, sesuai dengan lafal aslinya yang ada pada surah An-Nahl. Mereka juga membolehkan membaca dengan selain lafal tersebut ataupun dengan menguranginya. Misalnya: “A’udzu billahi minasy-syaithan” Atau dengan menambahinya misalnya: “A’udzu billahis-sami’il ‘aliimi minas-syaitaanir-rajiim”, “A’udzu billahil ‘Adhimi minas-syaitaanir-rajiim”, serta lafal-lafal yang lain yang pernah dilakukan oleh para ahli Qira’at. 

Selasa, 20 Mei 2025

Mengenal Ilmu Ushul Nahwu

Abstrak

Ilmu Ushul Nahwu merupakan fondasi metodologis dalam menyusun dan memahami kaidah-kaidah ilmu Nahwu. Artikel ini membahas hakikat, sejarah lahirnya, objek kajian, tujuan, serta sumber-sumber pokok dalam Ilmu Ushul Nahwu. Pembahasan ini penting sebagai bekal dasar untuk memahami sistematika berpikir nahwiyah yang melandasi pengembangan gramatika Arab klasik maupun modern.

Pendahuluan

Ilmu Nahwu adalah bagian penting dalam studi tata bahasa Arab, namun di baliknya terdapat satu disiplin yang lebih mendasar yaitu Ilmu Ushul Nahwu (أصول النحو), yang bisa dianggap sebagai “filsafat gramatika Arab” atau “metodologi penetapan kaidah nahwu.” Ilmu ini berperan dalam membangun kerangka berpikir dalam menyusun, menyeleksi, dan mengkritisi kaidah bahasa berdasarkan dalil-dalil linguistik, baik dari aspek lafaz (bunyi) maupun makna.

Pengertian Ilmu Ushul Nahwu

Secara etimologis, ushul (أصول) adalah bentuk jamak dari ashl (أصل) yang berarti pokok, dasar, atau fondasi. Sedangkan nahwu (نحو) berarti arah atau tata bahasa. Maka, Ushul Nahwu adalah ilmu yang membahas dasar-dasar dan metodologi dalam membangun kaidah-kaidah nahwu.

Menurut Ibnu Jinni (w. 392 H), dalam kitab Al-Khashā’iṣ, Ushul Nahwu adalah:

"Ilmu yang bertugas menjelaskan alasan di balik penetapan suatu kaidah nahwu dan prinsip-prinsip pengambilan hukumnya."

Sejarah Perkembangan Ilmu Ushul Nahwu

Ilmu Ushul Nahwu muncul sebagai respons terhadap kebutuhan untuk menata kaidah bahasa secara sistematis dan argumentatif. Perkembangannya dapat dirunut dalam beberapa fase:

1. Fase Pembentukan Kaidah (Abad 1–2 H)

Pada masa ini, para ahli bahasa seperti Abu al-Aswad ad-Du’ali, Imam Khalil bin Ahmad, dan Sibawaih menyusun kaidah nahwu berdasarkan pengamatan terhadap bahasa Arab fushah, terutama dari syair, percakapan, dan Al-Qur’an.

2. Fase Konsolidasi Metodologi (Abad 3–4 H)

Tokoh-tokoh seperti al-Zajjājī, al-Rummānī, dan Ibnu Jinni mulai merumuskan kaidah dengan pendekatan metodologis, membedakan antara qiyas, sima’, dan istishhab sebagai dasar penalaran. Kitab Al-Khashā’iṣ menjadi representasi tertinggi dari pendekatan ini.

3. Fase Kritik dan Pembaharuan (Abad 5–7 H)

Lahir kritik terhadap pendekatan Bashrah dan Kufah. Tokoh seperti as-Suyuthi dalam Al-Ikhtilāq fi Ushul al-Nahw mencoba menyintesiskan perbedaan-perbedaan tersebut.

Objek Kajian Ilmu Ushul Nahwu

Objek formal dari Ilmu Ushul Nahwu adalah:

  • Dalil-dalil qawā‘id nahwiyah, seperti:
    • Sima’i (berdasarkan pendengaran dari penutur asli),
    • Qiyasi (analogi),
    • Istishhab (kaidah berkelanjutan), dan
    • Ijma’ Nahwiyyin (konsensus ahli nahwu).

Objek materialnya adalah lafaz-lafaz bahasa Arab, baik dalam bentuk kalimat maupun kata, yang dijadikan landasan kaidah.

Tujuan Ilmu Ushul Nahwu

  1. Membentuk kaidah nahwu secara sistematis dan logis.
  2. Membedakan antara kaidah yang kuat dan lemah dalilnya.
  3. Menilai validitas analogi dan pengecualian dalam gramatika Arab.
  4. Menjaga bahasa Arab dari penyimpangan (اللحن).
  5. Mengkaji prinsip-prinsip kesepadanan bentuk dan makna.

Sumber dan Dalil dalam Ushul Nahwu

Jenis Dalil

Penjelasan

Contoh

Sima’ (pendengaran)

Kaidah diambil dari bahasa yang diucapkan oleh penutur asli Arab (Al-Qur’an, Hadis, syair jahiliyah).

رفع الفاعل منصوب المفعول

Qiyas (analogi)

Menyamakan bentuk baru dengan yang sudah mapan berdasarkan kesamaan.

نصب الحال كـ نصب المفعول به

Ijma’

Konsensus ulama nahwu tentang kaidah tertentu.

جواز حذف الفاعل عند العلم به

Istishhab

Asumsi bahwa hukum tetap berlaku sampai ada perubahan.

بقاء الإعراب الأصلي ما لم يوجد صارف

Perbandingan Aliran dalam Ushul Nahwu

Aspek

Bashrah

Kufah

Sumber utama

Qiyas

Sima’

Ketat terhadap kaidah

Sangat ketat

Fleksibel

Tokoh

Sibawaih, al-Mubarrid

al-Farra’, al-Kisai

Pendekatan

Rasionalistik

Empiris

Relevansi Ushul Nahwu di Era Modern

Ilmu Ushul Nahwu tetap penting karena:

  1. Menjadi landasan penalaran dalam studi tata bahasa Arab kontemporer.
  2. Digunakan dalam penulisan kamus dan buku tata bahasa modern.
  3. Menjadi alat analisis linguistik klasik dalam studi tafsir dan hadis.
  4. Diperlukan dalam digitalisasi bahasa Arab dan pembuatan AI linguistik.

Kesimpulan

Ilmu Ushul Nahwu adalah disiplin penting yang menopang bangunan ilmu Nahwu. Ia tidak hanya memaparkan kaidah, tetapi juga menjelaskan mengapa dan bagaimana kaidah tersebut disusun. Melalui Ushul Nahwu, pemahaman terhadap bahasa Arab menjadi lebih ilmiah, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis.

Daftar Pustaka

  1. Ibnu Jinni. Al-Khashā’iṣ. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999.
  2. al-Suyuthi, Jalaluddin. Al-Ikhtilāf fī Ushūl al-Nahw. Beirut: Dar al-Fikr, 2001.
  3. Abu al-Barakat al-Anbari. Al-Inshāf fī Masā’il al-Khilāf. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  4. Abdurrahman al-Hajuri. Ushul al-Nahw. Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd, 2012.
  5. Radhiy al-Din al-Astarabadi. Syarh al-Kāfiyah fī al-Nahw. Cairo: Al-Azhar Press.
  6. al-Zajjājī. Islāh al-Mantiq. Beirut: Dar al-Ma’arif.

Sami al-Samarrai. Ushūl al-Nahw: Qirā’ah Jadīdah. Amman: Dar al-Kitab, 2015. 

Sejarah Perkembangan Ilmu Ushul Nahwu: Dari Khalil bin Ahmad hingga Ibnu Madha’

 

Abstrak

Ilmu Ushul Nahwu merupakan fondasi konseptual dalam pembentukan kaidah-kaidah tata bahasa Arab (nahwu). Artikel ini menelusuri perkembangan historis dan metodologis ilmu ini dari masa awal kemunculannya oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi hingga kritik radikal Ibnu Madha’ al-Qurthubi. Kajian ini menunjukkan bahwa Ushul Nahwu merupakan produk ijtihadi para ulama linguistik Arab yang mengalami perkembangan dinamis sesuai dengan pendekatan dan konteks zamannya.

Pendahuluan

Ilmu Ushul Nahwu dapat dipahami sebagai metodologi dan kerangka teori dalam menetapkan kaidah-kaidah nahwu. Sebagaimana Ushul Fiqh dalam hukum Islam, Ushul Nahwu memegang peranan penting dalam mengatur proses istinbath atau istidlal kaidah dari teks-teks bahasa Arab (syahid lughawî). Meskipun tidak sepopuler ilmu nahwu secara praktis, Ushul Nahwu merupakan “roh metodologis” dari setiap kaidah yang lahir.

1. Perintis Awal: Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H)

Khalil bin Ahmad dikenal sebagai guru Sibawaih dan peletak dasar-dasar kaidah melalui pendekatan sistematis terhadap fenomena kebahasaan Arab. Ia bukan hanya pencetus ilmu arudh, tetapi juga pelopor dalam mengkaji bahasa secara struktural. Gagasannya tentang pola wazan dan sistem analisis linguistik secara tidak langsung menjadi dasar epistemologi nahwu dan ushulnya.

Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah salah satu tokoh agung dalam sejarah keilmuan Islam yang dikenal sebagai pendiri ilmu arudh (ilmu prosodi syair Arab) dan penemu kamus Arab pertama yang dikenal dengan nama Kitab al-‘Ain. Ia lahir di Oman sekitar tahun 100 H dan wafat di Bashrah pada tahun 170 H. Khalil adalah guru dari Sibawaih, dan pengaruhnya sangat besar dalam pengembangan metodologi bahasa Arab. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, zahid, dan tidak mengejar popularitas, namun kontribusinya sangat mendasar dalam tata bahasa Arab.

Dalam konteks Ushul Nahwu, Khalil bin Ahmad tidak menulis kitab khusus yang disebut dengan ushul, tetapi pendekatan-pendekatannya terhadap bahasa menunjukkan kerangka pemikiran yang sistematis dan ilmiah. Beliau memperkenalkan pendekatan analogis terhadap struktur bahasa, mengenalkan pentingnya pola (wazn) dalam pengklasifikasian kata, serta memperhatikan keteraturan dalam pembentukan kalimat Arab. Ia pula yang meletakkan dasar pemikiran bahwa bahasa Arab harus dipahami melalui telaah terhadap ucapan orang Arab murni (al-‘Arab al-Fusha’) dan bukan semata berdasarkan logika. Dengan demikian, ia telah menanam benih-benih awal ilmu ushul nahwu.

2. Kodifikasi dan Puncak Pertumbuhan: Sibawaih dan Aliran Bashrah

Kitab Al-Kitab karya Sibawaih (w. 180 H) adalah karya monumental yang menjadikan ilmu nahwu sebagai ilmu yang tertulis dan terstruktur. Di sinilah prinsip-prinsip ushul mulai disadari: deduksi kaidah dari syawahid, penggunaan qiyas (analogi), dan istiqra’ (induksi). Meskipun istilah “ushul nahwu” belum eksplisit digunakan, Al-Kitab telah menjadi rujukan primer.

Abu Bishr ‘Amr bin ‘Uthman bin Qanbar, yang lebih dikenal dengan nama Sibawaih (w. 180 H), adalah pelopor utama dalam kodifikasi ilmu nahwu. Lahir di Persia dan belajar kepada Khalil bin Ahmad, Sibawaih menulis Al-Kitab, sebuah karya ensiklopedik yang bukan hanya mengumpulkan kaidah bahasa Arab, tetapi juga menyusun prinsip-prinsip deduktif untuk menilai benar atau salahnya struktur kalimat. Karya ini menjadi fondasi utama dalam pengajaran nahwu dan terus dijadikan rujukan utama selama berabad-abad.

Dalam Al-Kitab, meskipun istilah “Ushul Nahwu” belum dipakai secara eksplisit, pendekatan-pendekatannya memperlihatkan semangat metodologis yang khas. Sibawaih menggunakan pendekatan istiqra’ (induksi) dengan menganalisis ribuan contoh ucapan Arab murni, serta qiyas (analogi) untuk merumuskan kaidah. Ia juga memprioritaskan simā‘ (pendengaran langsung) dari bahasa lisan suku Arab yang fasih sebagai sumber otoritatif. Dengan demikian, Sibawaih secara tidak langsung membangun kerangka kerja Ushul Nahwu yang berlandaskan observasi linguistik dan sistematika deduktif.

Aliran Bashrah merupakan madrasah linguistik yang pertama kali terbentuk dalam sejarah perkembangan ilmu nahwu. Didirikan di kota Bashrah (Irak Selatan) yang kala itu menjadi pusat intelektual Islam, aliran ini lahir dari semangat keilmuan yang tinggi serta pengaruh besar dari para ulama yang memiliki keterkaitan kuat dengan bahasa Arab murni, khususnya bahasa suku Quraisy dan suku-suku utama lainnya. Bashrah menjadi pusat aktivitas ilmiah yang menghimpun para ahli bahasa, qari’, mufassir, dan fuqaha sejak abad pertama Hijriah.

Ciri khas dari aliran Bashrah adalah pendekatan normatif dan deduktif. Kaidah ditetapkan berdasarkan logika linguistik yang ketat, dengan penekanan utama pada qiyas (analogi) dan istiqra’ (induksi terbatas) terhadap ucapan-ucapan Arab fasih. Aliran ini lebih cenderung menolak bentuk-bentuk yang tidak sesuai kaidah, meskipun memiliki syahid (contoh otoritatif), apabila bentuk tersebut dianggap syādzh (ganjil). Prinsipnya, yang langka tidak bisa dijadikan kaidah. Oleh karena itu, Bashrah dikenal tegas dalam merumuskan struktur bahasa dan cenderung eksklusif terhadap penyimpangan bentuk.

Tokoh utamanya adalah Sibawaih (w. 180 H), murid dari Khalil bin Ahmad. Kitab al-Kitāb karangan Sibawaih merupakan karya monumental yang menyusun kaidah bahasa Arab secara sistematis. Selain Sibawaih, tokoh-tokoh penting lainnya dari aliran Bashrah antara lain:

  • Al-Mubarrad (w. 285 H): penulis al-Muqtaḍab, salah satu kitab besar nahwu.
  • Al-Zajjāj (w. 311 H): ahli tafsir dan nahwu, menulis Ma‘āni al-Qur’ān dengan pendekatan Bashri.
  • Abu ‘Ali al-Farisi (w. 377 H): mengembangkan analisis sintaksis mendalam terhadap bahasa Arab, guru dari Ibn Jinni.

Aliran Bashrah juga dikenal sangat selektif dalam menerima sumber bahasa. Mereka mengutamakan riwayat yang mutawatir dan hanya mengambil dari kabilah-kabilah yang dikenal kefasihannya. Dalam ushul nahwu, mereka mengembangkan struktur berpikir analogis yang kuat, memperluas penggunaan qiyas hingga ke bentuk-bentuk turunan, dan meyakini adanya logika dalam pola-pola bahasa.

3. Reaksi dan Variasi Pendekatan: Aliran Kufah

Aliran Kufah (misalnya Al-Kisai, Al-Farra’) mengedepankan pendekatan empirik dengan lebih banyak mengakomodasi syadz (bentuk ganjil), bahasa kabilah, dan samā‘ (pendengaran langsung). Di sinilah terjadi dinamika metode dalam ushul nahwu: antara qiyas dan samā‘.

Berbeda dari Bashrah yang cenderung kaku dan normatif, Aliran Kufah lahir dengan semangat empirik yang lebih terbuka. Tokoh penting dari Kufah adalah Al-Farrā’ (w. 207 H) dan Al-Kisā’ī (w. 189 H). Al-Kisā’ī adalah guru dari Harun al-Rasyid dan anaknya, Al-Amin, serta merupakan imam qira’ah dalam salah satu qira’ah sab‘ah. Adapun Al-Farrā’, murid dari Al-Kisā’ī, dikenal dengan karyanya Ma‘āni al-Qur’ān yang sangat bernilai dalam bidang tafsir bahasa dan analisis kebahasaan al-Qur'an.

Aliran Kufah cenderung lebih menerima keragaman bahasa yang berkembang di berbagai kabilah, dan lebih fleksibel dalam mengakui bentuk-bentuk yang dianggap ganjil (syādzh) oleh Bashrah. Mereka tidak terlalu kaku pada qiyas dan memberi ruang lebih besar kepada fakta kebahasaan yang nyata ditemukan dalam syair dan ucapan lisan. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan metode ushul antara dua aliran besar ini: Kufah lebih deskriptif dan kontekstual, sedangkan Bashrah lebih preskriptif dan normatif.

Aliran Kufah muncul sebagai respon dan alternatif terhadap dominasi Bashrah. Didirikan di kota Kufah (Irak Tengah), aliran ini berkembang pesat karena posisinya yang strategis sebagai pusat budaya dan keberagaman dialek Arab. Tidak seperti Bashrah yang lebih formalistik, aliran Kufah lebih bersifat empirik, fleksibel, dan kontekstual dalam memahami bahasa Arab.

Pendekatan Kufah lebih terbuka terhadap bentuk-bentuk bahasa yang dianggap menyimpang oleh Bashrah. Mereka lebih mengakomodasi variasi dialek, menghargai kekayaan ungkapan kabilah yang berbeda-beda, serta lebih sering menggunakan samā‘ (riwayat langsung dari penutur asli) sebagai dasar utama. Aliran ini juga lebih banyak menerima bentuk syadz apabila bentuk itu memiliki dasar penggunaan oleh orang Arab fasih, meski tidak sesuai dengan kaidah qiyas Bashrah.

Tokoh-tokoh utama dari Kufah antara lain:

  • Al-Kisā’ī (w. 189 H): qari’ ternama dan guru bahasa anak khalifah Harun al-Rasyid, termasuk perumus awal sistem qira’ah. Ia dikenal banyak mengutip dari dialek-dialek Arab di luar Quraisy.
  • Al-Farrā’ (w. 207 H): murid dari al-Kisā’ī, penulis Ma‘āni al-Qur’ān, yang banyak menggunakan metode samā‘ dan mengkritik pendapat-pendapat Bashrah yang kaku.

Aliran Kufah juga memperbolehkan pemakaian dalil syi‘ir dan khithāb sya‘bi sebagai rujukan, selama diyakini berasal dari penutur Arab yang asli. Mereka tidak terlalu menekankan struktur analogi, dan lebih menghargai fakta kebahasaan. Dalam hal ushul nahwu, mereka menempatkan simā‘ sebagai rujukan primer dan qiyas sebagai pelengkap.

Salah satu perbedaan mendasar antara Kufah dan Bashrah terletak pada cara menerima kaidah: Bashrah berkata, “Apa yang didukung qiyas dan samā‘, itu diterima,” sedangkan Kufah berkata, “Apa yang didukung oleh samā‘, meskipun menyalahi qiyas, itu diterima.” Oleh karena itu, Kufah memberi sumbangan besar terhadap perluasan data bahasa dan keragaman bentuk i‘rab yang pada akhirnya memperkaya khazanah nahwu.

4. Konsolidasi Istilah dan Metodologi: Ibn Jinni (w. 392 H)

Ibn Jinni adalah tokoh penting dalam menyistematisasi kaidah ushul nahwu dalam bentuk yang lebih teoritis. Kitab Al-Khasha’ish menjadi karya pionir yang membahas dalil lughawi, istinbath, qiyas, samā‘, ijtihad, dan sebagainya secara metodologis. Di sinilah muncul istilah-istilah ushul seperti:

Kitab al-Khashā’iṣ (الخصائص) adalah karya monumental Abu al-Fath ‘Utsmān bin Jinnī (w. 392 H), seorang linguis, nahwiy, dan ahli fonologi terkemuka dari era pertengahan. Ia merupakan murid dari Abu ‘Alī al-Fārisī, seorang tokoh besar aliran Bashrah yang juga pakar dalam sintaksis dan semantik. Ibnu Jinni dikenal luas karena berhasil menjembatani antara nahwu tradisional dan kajian filsafat bahasa, serta memperkenalkan pendekatan ilmiah yang jauh lebih sistematis dan analitis.

Al-Khashā’iṣ terdiri dari tiga jilid besar dan termasuk kitab paling penting dalam sejarah linguistik Arab. Judul kitab ini secara harfiah berarti Keistimewaan-keistimewaan Bahasa (Arab), tetapi dalam praktiknya kitab ini merupakan ensiklopedia filsafat bahasa Arab, yang membahas:

  • Asal-usul bahasa,
  • Kaidah-kaidah gramatika,
  • Prinsip-prinsip i‘rāb dan tarkīb,
  • Dalil-dalil ushul nahwu (simā‘, qiyās, ‘illah, istiqrā’, dan ijmā‘),
  • serta definisi dan filsafat istilah-istilah linguistik.

Dalam al-Khashā’i, Ibnu Jinni berhasil menyusun dan menstandarkan istilah-istilah penting dalam nahwu dan ushul nahwu, yang sebelumnya masih berserakan di berbagai kitab dan riwayat. Beberapa istilah yang dikaji dan diperjelas dalam kitab ini antara lain:

  • Dilālah (الدلالة): Penunjukan makna, baik secara lafzhī maupun ma‘nawī. Ia membagi dilālah ke dalam berbagai bentuk seperti dalālah iltizāmiyyah, mutadhāminah, dan muṭābaqah, yang menjadi dasar dalam teori semantik bahasa Arab.
  • ‘Illah (العلّة): Sebab gramatikal atau alasan rasional di balik suatu kaidah. Ibnu Jinni mengembangkan diskusi tentang ‘illah dengan mengaitkannya pada qiyās dan penggunaan, serta memperdebatkan apakah ‘illah harus rasional atau bisa juga semata berdasar samā‘.
  • Samā‘ (السماع): Segala bentuk yang berasal dari ucapan orang Arab fasih. Ia menetapkan bahwa samā‘ adalah sumber primer, dan segala teori atau kaidah yang dibangun harus bersandar pada data samā‘ terlebih dahulu.
  • Qiyās (القياس): Analogi linguistik. Ibnu Jinni membahas jenis-jenis qiyās dan batasan penerimaannya dalam nahwu. Ia juga menyoroti kapan qiyās boleh menyalahi samā‘ dan kapan tidak.
  • Naẓm (النظم): Susunan kalimat yang baik dan benar. Istilah ini kemudian menjadi sangat penting dalam tafsir al-Bayān dan bahkan dalam teori balaghah al-Jurjānī.

5. Kritik terhadap Ushul Nahwu Tradisional: Ibnu Madha’ al-Qurthubi (w. 592 H)

Ibnu Madha’ dalam kitabnya Al-Radd ‘ala al-Nuhat mengecam keras metodologi ushul nahwu yang dianggap terlalu berlebihan dan menyulitkan pelajar. Ia mengusulkan pendekatan praktis dengan menyederhanakan kaidah, menghapus takalluf, dan menolak sebagian besar qiyas yang tidak realistis. Meskipun pandangannya kontroversial, ia membuka wacana kritik konstruktif dalam ushul nahwu.

Nama lengkap ibnu Madha’ adalah Muammad bin Muammad bin Amad bin Maā’ al-Qurubī al-Andalusī (w. 592 H/1196 M), seorang faqīh bermadzhab āhiriyyah dan juga ahli bahasa yang hidup di Andalus (Spanyol Islam) pada masa kekuasaan dinasti al-Muwaḥḥidūn. Ia pernah menjabat sebagai qādī al-quāt di Cordoba dan dikenal sangat kritis terhadap pendekatan rasionalistik dalam ilmu nahwu.

Ibnu Maḍā’ adalah pemikir reformis yang memiliki perhatian mendalam terhadap pendidikan dan kebahasaan. Dalam bidang bahasa, ia terkenal melalui kitabnya Al-Radd ‘alā al-Nuḥāt (الرد على النحاة), yang secara harfiah berarti "Bantahan terhadap Para Ahli Nahwu". Kitab ini menjadi manifesto kritik terhadap metodologi dan asumsi dasar ilmu nahwu klasik, khususnya warisan aliran Bashrah dan Kufah.

Ibnu Maā’ menulis al-Radd ‘alā al-Nuāt sebagai respon atas kerumitan dan kejumudan dalam gramatika Arab yang menurutnya justru menghalangi pemahaman bahasa, al-Qur’an, dan agama secara umum. Ia menilai bahwa banyak aspek dalam ilmu nahwu telah terlalu dipenuhi spekulasi logis, pengandaian-pengandaian i‘rāb yang tak perlu, serta kerangka berpikir rasionalistik yang membebani pelajar dan tak lagi relevan dengan semangat bahasa Arab yang sederhana dan praktis.

Kritik ini berkaitan erat dengan pendekatan madzhab Ẓāhirī yang menolak qiyās dan takwil yang berlebihan. Ia juga didorong oleh latar sosial Andalusia, di mana bahasa Arab sebagai bahasa pendidikan mengalami krisis keterpahaman akibat dominasi sistem nahwu klasik yang sulit.

Kritik Ibnu Madha’ terhadap Ushul Nahwu tradisional antara lain:

a. Kritik terhadap Teori ‘Amil (العامل)

Ibnu Maḍā’ dengan tegas menolak teori ‘āmil (pengaruh gramatikal) sebagai landasan utama dalam nahwu. Menurutnya, ‘āmil adalah rekayasa akal-akalan yang tidak pernah dikenal oleh masyarakat Arab asli dan justru tidak diperlukan untuk memahami struktur kalimat.

“Al-‘Arab ta‘rifūn al-ma‘ānī wa yasta‘milūna al-alfāẓ bidūni ‘ilmin bi al-‘awāmil...”
("Orang Arab mengetahui makna dan menggunakan kata-kata tanpa mengetahui apa itu ‘āmil.")

Baginya, hubungan antar kata dalam kalimat tidak perlu dijelaskan dengan entitas abstrak seperti ‘āmil, karena makna dan fungsi kata dapat diketahui secara langsung melalui konteks dan praktik. Ia menganggap bahwa ‘āmil hanyalah hipotesis para nahwiyyīn yang membuat ilmu nahwu menjadi rumit.

b. Kritik terhadap Taqdīr I‘rāb (تقدير الإعراب)

Ibnu Maḍā’ juga mengkritik kebiasaan ulama nahwu yang menaksir i‘rāb (taqdīr) ketika i‘rāb tersebut tidak tampak secara lahir. Misalnya, ketika kata berakhir dengan huruf yang tidak bisa berubah (mabnī), namun para nahwiyyīn tetap memaksakan adanya i‘rāb takdirī.

Menurutnya, hal ini adalah upaya yang berlebihan dan tidak berdasar. Ia mempertanyakan manfaat ilmiah dari i‘rāb takdirī dan menegaskan bahwa hal tersebut justru membingungkan pelajar dan tidak berguna dalam komunikasi.

c. Kritik terhadap Tafrī‘ (تفريع) dan Al-Qiyās (القياس)

Sebagai seorang Ẓāhirī, Ibnu Maḍā’ menolak prinsip qiyās dalam linguistik, khususnya yang digunakan oleh aliran Bashrah. Ia berpendapat bahwa bahasa bukanlah sistem logika deduktif yang bisa dipaksakan pada pola-pola analogi, tetapi lebih merupakan praktik sosial dan kebiasaan tutur.

Ia menganggap bahwa banyak kaidah nahwu klasik adalah hasil pembiasaan qiyās yang dipaksakan, tidak berpijak pada simā‘ dan malah menyimpang dari pemakaian asli orang Arab.

d. Kritik terhadap Penggunaan Istilāḥ- istilah Kompleks

Ibnu Maḍā’ menentang penggunaan istilah-istilah rumit dan teknis seperti maf‘ūl ma‘ah, khafḍ bī ḥarf al-jarr, na‘tu sababī, dan semacamnya. Ia menganggap bahwa istilah-istilah ini menciptakan kebingungan lebih banyak daripada manfaat, dan tidak dikenal oleh para penutur Arab sejati.

Ia menyerukan agar bahasa Arab dipelajari dan diajarkan dengan pendekatan yang sederhana dan praktis, tanpa perlu terjerat pada label dan kategorisasi artifisial.

Ibnu Maā’ tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan reformasi metodologis dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab:

  • Mengembalikan bahasa ke praktik komunikatif yang alami, bukan sistem logis yang kaku.
  • Menghapus pengajaran teori ‘āmil dan istilah-istilah teknis yang tidak diperlukan.
  • Mengutamakan al-simā‘ (pengamatan langsung) terhadap pemakaian bahasa daripada deduksi qiyās.
  • Mempermudah kurikulum bahasa Arab, agar bisa dipahami oleh pelajar pemula tanpa harus menghafal kaidah kompleks.

Pemikiran Ibnu Maā’ tergolong radikal dalam tradisi nahwu klasik, dan karena itu mendapat kritik keras dari kalangan tradisionalis. Namun, pada masa modern, banyak pemikir bahasa Arab yang mengapresiasi visinya dalam penyederhanaan pembelajaran bahasa, seperti:

  • Ibrāhīm Mustafā dalam Iḥyā’ al-Naḥw,
  • Tammām Ḥassān dalam al-Lughah wa al-Tafsīr,
  • serta para reformis pendidikan bahasa Arab di era kontemporer.

Ia dianggap sebagai pelopor gerakan “taḥrīr al-naḥw” (pembebasan gramatika Arab) dari belenggu spekulasi dan pendekatan rasionalisme ekstrem.

Kesimpulan

Perjalanan ilmu ushul nahwu tidak lepas dari dialektika antara tradisi dan rasionalitas, antara empirik dan sistematis, antara tekstual dan teoritis. Dimulai dari fondasi Khalil bin Ahmad, puncak sistematisasi oleh Sibawaih, variasi metode Kufah, hingga refleksi filosofis Ibn Jinni dan kritik Ibnu Madha’, semuanya menunjukkan bahwa ilmu ini bersifat dinamis dan terbuka terhadap perkembangan metodologi keilmuan.

Salah satu perbedaan mendasar antara Kufah dan Bashrah terletak pada cara menerima kaidah: Bashrah berkata, “Apa yang didukung qiyas dan samā‘, itu diterima,” sedangkan Kufah berkata, “Apa yang didukung oleh samā‘, meskipun menyalahi qiyas, itu diterima.” Oleh karena itu, Kufah memberi sumbangan besar terhadap perluasan data bahasa dan keragaman bentuk i‘rab yang pada akhirnya memperkaya khazanah nahwu.

Kitab al-Khashā’iṣ karya Ibnu Jinni bukan hanya sebuah karya nahwu, melainkan tonggak konsolidasi istilah dan metodologi Ushul Nahwu. Ia meletakkan dasar keilmuan yang kokoh, menjelaskan dan memperhalus konsep-konsep utama yang menjadi pilar dalam analisis gramatikal, serta menyatukan dua kutub besar metodologi dengan pendekatan integratif: empirisme dan rasionalisme. Ibnu Jinni berhasil menjadikan nahwu tidak hanya sebagai ilmu hafalan kaidah, tetapi sebagai ilmu berpikir yang mendalam dan filosofis.

Al-Radd ‘alā al-Nuḥāt karya Ibnu Maḍā’ adalah karya penting yang menghadirkan kritik tajam dan sistematis terhadap Ushul Nahwu klasik. Ia menolak teori ‘āmil, taqdīr i‘rāb, penggunaan qiyās yang berlebihan, dan istilah-istilah teknis yang tidak diperlukan. Ibnu Maḍā’ mengusulkan reformasi gramatika Arab dengan pendekatan yang lebih komunikatif, praktis, dan berbasis pada kenyataan bahasa Arab lisan. Meski kontroversial, gagasan-gagasannya membuka pintu bagi pembaruan metodologi pengajaran bahasa Arab hingga hari ini.

Sementara Ibnu Jinni mengonsolidasikan Ushul Nahwu, Ibnu Maḍā’ justru membongkarnya secara radikal. Dalam al-Radd ‘ala al-Nuḥāt, ia mengkritik aspek-aspek pokok dalam nahwu seperti ‘āmil, taqdīr i‘rāb, dan penggunaan istilah teknis yang dinilainya membingungkan pelajar. Menurutnya, teori ‘āmil adalah konstruksi akal-akalan yang tidak pernah dikenal oleh penutur Arab asli, dan justru menyulitkan orang dalam memahami bahasa Arab.

Daftar Pustaka

  1. Sibawaih. Al-Kitāb. Tahqiq: ‘Abd al-Salām Hārūn. Beirut: Dār al-Jīl.
  2. Ibn Jinnī. Al-Khashā’iṣ. Tahqiq: Muhammad Ali al-Najjar. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  3. Al-Mubarrad. Al-Muqtaḍab. Beirut: Dār al-Fikr.
  4. Al-Farrā’. Ma‘āni al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Ma‘rifah.
  5. Ibn Madha’. Al-Radd ‘ala al-Nuḥāt. Tahqiq: Shawqī Ḍayf. Kairo: Dār al-Ma‘ārif.
  6. Al-Suyūṭī. Al-Mazhar fī ‘Ulūm al-Lughah wa Anwa‘ihā. Beirut: Dār al-Fikr.
  7. Al-Suyūṭī. Bughyah al-Wu‘āt fī Ṭabaqāt al-Lughawiyyīn wa al-Nuḥāt. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Perkembangan Ilmu Tafsir Berdasarkan Lima Tahapan Utama

Ilmu tafsir berkembang dalam sejarah Islam melalui lima tahapan utama yang disusun berdasarkan sumber dan pelakunya. Tiap tahapan memiliki k...