Abstrak
Ilmu
Ushul Nahwu merupakan fondasi konseptual dalam pembentukan kaidah-kaidah tata
bahasa Arab (nahwu). Artikel ini menelusuri perkembangan historis dan
metodologis ilmu ini dari masa awal kemunculannya oleh Khalil bin Ahmad
al-Farahidi hingga kritik radikal Ibnu Madha’ al-Qurthubi. Kajian ini
menunjukkan bahwa Ushul Nahwu merupakan produk ijtihadi para ulama linguistik
Arab yang mengalami perkembangan dinamis sesuai dengan pendekatan dan konteks
zamannya.
Pendahuluan
Ilmu
Ushul Nahwu dapat dipahami sebagai metodologi dan kerangka teori dalam
menetapkan kaidah-kaidah nahwu. Sebagaimana Ushul Fiqh dalam hukum Islam, Ushul
Nahwu memegang peranan penting dalam mengatur proses istinbath atau istidlal
kaidah dari teks-teks bahasa Arab (syahid lughawî). Meskipun tidak sepopuler
ilmu nahwu secara praktis, Ushul Nahwu merupakan “roh metodologis” dari setiap
kaidah yang lahir.
1.
Perintis Awal: Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H)
Khalil
bin Ahmad dikenal sebagai guru Sibawaih dan peletak dasar-dasar kaidah melalui
pendekatan sistematis terhadap fenomena kebahasaan Arab. Ia bukan hanya
pencetus ilmu arudh, tetapi juga pelopor dalam mengkaji bahasa secara
struktural. Gagasannya tentang pola wazan dan sistem analisis linguistik secara
tidak langsung menjadi dasar epistemologi nahwu dan ushulnya.
Khalil
bin Ahmad al-Farahidi adalah salah satu tokoh agung dalam sejarah keilmuan
Islam yang dikenal sebagai pendiri ilmu arudh (ilmu prosodi syair Arab) dan
penemu kamus Arab pertama yang dikenal dengan nama Kitab al-‘Ain. Ia lahir di
Oman sekitar tahun 100 H dan wafat di Bashrah pada tahun 170 H. Khalil adalah
guru dari Sibawaih, dan pengaruhnya sangat besar dalam pengembangan metodologi
bahasa Arab. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, zahid, dan tidak mengejar
popularitas, namun kontribusinya sangat mendasar dalam tata bahasa Arab.
Dalam
konteks Ushul Nahwu, Khalil bin Ahmad tidak menulis kitab khusus yang disebut
dengan ushul, tetapi pendekatan-pendekatannya terhadap bahasa menunjukkan
kerangka pemikiran yang sistematis dan ilmiah. Beliau memperkenalkan pendekatan
analogis terhadap struktur bahasa, mengenalkan pentingnya pola (wazn) dalam
pengklasifikasian kata, serta memperhatikan keteraturan dalam pembentukan
kalimat Arab. Ia pula yang meletakkan dasar pemikiran bahwa bahasa Arab harus
dipahami melalui telaah terhadap ucapan orang Arab murni (al-‘Arab al-Fusha’)
dan bukan semata berdasarkan logika. Dengan demikian, ia telah menanam
benih-benih awal ilmu ushul nahwu.
2.
Kodifikasi dan Puncak Pertumbuhan: Sibawaih dan Aliran Bashrah
Kitab
Al-Kitab karya Sibawaih (w. 180 H) adalah karya monumental yang
menjadikan ilmu nahwu sebagai ilmu yang tertulis dan terstruktur. Di sinilah
prinsip-prinsip ushul mulai disadari: deduksi kaidah dari syawahid, penggunaan
qiyas (analogi), dan istiqra’ (induksi). Meskipun istilah “ushul nahwu” belum
eksplisit digunakan, Al-Kitab telah menjadi rujukan primer.
Abu
Bishr ‘Amr bin ‘Uthman bin Qanbar, yang lebih dikenal dengan nama Sibawaih (w.
180 H), adalah pelopor utama dalam kodifikasi ilmu nahwu. Lahir di Persia dan
belajar kepada Khalil bin Ahmad, Sibawaih menulis Al-Kitab, sebuah karya
ensiklopedik yang bukan hanya mengumpulkan kaidah bahasa Arab, tetapi juga
menyusun prinsip-prinsip deduktif untuk menilai benar atau salahnya struktur
kalimat. Karya ini menjadi fondasi utama dalam pengajaran nahwu dan terus
dijadikan rujukan utama selama berabad-abad.
Dalam
Al-Kitab, meskipun istilah “Ushul Nahwu” belum dipakai secara eksplisit,
pendekatan-pendekatannya memperlihatkan semangat metodologis yang khas.
Sibawaih menggunakan pendekatan istiqra’ (induksi) dengan menganalisis ribuan
contoh ucapan Arab murni, serta qiyas (analogi) untuk merumuskan kaidah. Ia
juga memprioritaskan simā‘ (pendengaran langsung) dari bahasa lisan suku Arab
yang fasih sebagai sumber otoritatif. Dengan demikian, Sibawaih secara tidak
langsung membangun kerangka kerja Ushul Nahwu yang berlandaskan observasi
linguistik dan sistematika deduktif.
Aliran
Bashrah merupakan madrasah linguistik yang pertama kali terbentuk dalam sejarah
perkembangan ilmu nahwu. Didirikan di kota Bashrah (Irak Selatan) yang kala itu
menjadi pusat intelektual Islam, aliran ini lahir dari semangat keilmuan yang
tinggi serta pengaruh besar dari para ulama yang memiliki keterkaitan kuat
dengan bahasa Arab murni, khususnya bahasa suku Quraisy dan suku-suku utama
lainnya. Bashrah menjadi pusat aktivitas ilmiah yang menghimpun para ahli
bahasa, qari’, mufassir, dan fuqaha sejak abad pertama Hijriah.
Ciri
khas dari aliran Bashrah adalah pendekatan normatif dan deduktif. Kaidah
ditetapkan berdasarkan logika linguistik yang ketat, dengan penekanan utama
pada qiyas (analogi) dan istiqra’ (induksi terbatas) terhadap
ucapan-ucapan Arab fasih. Aliran ini lebih cenderung menolak bentuk-bentuk yang
tidak sesuai kaidah, meskipun memiliki syahid (contoh otoritatif), apabila
bentuk tersebut dianggap syādzh (ganjil). Prinsipnya, yang langka tidak
bisa dijadikan kaidah. Oleh karena itu, Bashrah dikenal tegas dalam merumuskan
struktur bahasa dan cenderung eksklusif terhadap penyimpangan bentuk.
Tokoh
utamanya adalah Sibawaih (w. 180 H), murid dari Khalil bin Ahmad. Kitab al-Kitāb
karangan Sibawaih merupakan karya monumental yang menyusun kaidah bahasa Arab
secara sistematis. Selain Sibawaih, tokoh-tokoh penting lainnya dari aliran
Bashrah antara lain:
- Al-Mubarrad
(w. 285 H): penulis al-Muqtaḍab, salah satu kitab besar nahwu.
- Al-Zajjāj
(w. 311 H): ahli tafsir dan nahwu, menulis Ma‘āni al-Qur’ān dengan
pendekatan Bashri.
- Abu ‘Ali al-Farisi
(w. 377 H): mengembangkan analisis sintaksis mendalam terhadap bahasa
Arab, guru dari Ibn Jinni.
Aliran
Bashrah juga dikenal sangat selektif dalam menerima sumber bahasa. Mereka
mengutamakan riwayat yang mutawatir dan hanya mengambil dari kabilah-kabilah
yang dikenal kefasihannya. Dalam ushul nahwu, mereka mengembangkan struktur
berpikir analogis yang kuat, memperluas penggunaan qiyas hingga ke
bentuk-bentuk turunan, dan meyakini adanya logika dalam pola-pola bahasa.
3.
Reaksi dan Variasi Pendekatan: Aliran Kufah
Aliran
Kufah (misalnya Al-Kisai, Al-Farra’) mengedepankan pendekatan empirik dengan
lebih banyak mengakomodasi syadz (bentuk ganjil), bahasa kabilah, dan samā‘
(pendengaran langsung). Di sinilah terjadi dinamika metode dalam ushul nahwu:
antara qiyas dan samā‘.
Berbeda
dari Bashrah yang cenderung kaku dan normatif, Aliran Kufah lahir dengan
semangat empirik yang lebih terbuka. Tokoh penting dari Kufah adalah Al-Farrā’
(w. 207 H) dan Al-Kisā’ī (w. 189 H). Al-Kisā’ī adalah guru dari Harun al-Rasyid
dan anaknya, Al-Amin, serta merupakan imam qira’ah dalam salah satu qira’ah
sab‘ah. Adapun Al-Farrā’, murid dari Al-Kisā’ī, dikenal dengan karyanya Ma‘āni
al-Qur’ān yang sangat bernilai dalam bidang tafsir bahasa dan analisis
kebahasaan al-Qur'an.
Aliran
Kufah cenderung lebih menerima keragaman bahasa yang berkembang di berbagai
kabilah, dan lebih fleksibel dalam mengakui bentuk-bentuk yang dianggap ganjil
(syādzh) oleh Bashrah. Mereka tidak terlalu kaku pada qiyas dan memberi
ruang lebih besar kepada fakta kebahasaan yang nyata ditemukan dalam syair dan
ucapan lisan. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan metode ushul antara dua
aliran besar ini: Kufah lebih deskriptif dan kontekstual, sedangkan Bashrah
lebih preskriptif dan normatif.
Aliran
Kufah muncul sebagai respon dan alternatif terhadap dominasi Bashrah. Didirikan
di kota Kufah (Irak Tengah), aliran ini berkembang pesat karena posisinya yang
strategis sebagai pusat budaya dan keberagaman dialek Arab. Tidak seperti
Bashrah yang lebih formalistik, aliran Kufah lebih bersifat empirik,
fleksibel, dan kontekstual dalam memahami bahasa Arab.
Pendekatan
Kufah lebih terbuka terhadap bentuk-bentuk bahasa yang dianggap menyimpang oleh
Bashrah. Mereka lebih mengakomodasi variasi dialek, menghargai kekayaan
ungkapan kabilah yang berbeda-beda, serta lebih sering menggunakan samā‘
(riwayat langsung dari penutur asli) sebagai dasar utama. Aliran ini juga
lebih banyak menerima bentuk syadz apabila bentuk itu memiliki dasar
penggunaan oleh orang Arab fasih, meski tidak sesuai dengan kaidah qiyas
Bashrah.
Tokoh-tokoh utama dari Kufah antara
lain:
- Al-Kisā’ī (w. 189 H): qari’ ternama dan guru bahasa anak
khalifah Harun al-Rasyid, termasuk perumus awal sistem qira’ah. Ia dikenal
banyak mengutip dari dialek-dialek Arab di luar Quraisy.
- Al-Farrā’ (w. 207 H): murid dari al-Kisā’ī, penulis Ma‘āni
al-Qur’ān, yang banyak menggunakan metode samā‘ dan mengkritik
pendapat-pendapat Bashrah yang kaku.
Aliran
Kufah juga memperbolehkan pemakaian dalil syi‘ir dan khithāb sya‘bi sebagai
rujukan, selama diyakini berasal dari penutur Arab yang asli. Mereka tidak
terlalu menekankan struktur analogi, dan lebih menghargai fakta kebahasaan.
Dalam hal ushul nahwu, mereka menempatkan simā‘ sebagai rujukan primer dan
qiyas sebagai pelengkap.
Salah
satu perbedaan mendasar antara Kufah dan Bashrah terletak pada cara menerima
kaidah: Bashrah berkata, “Apa yang didukung qiyas dan samā‘, itu diterima,”
sedangkan Kufah berkata, “Apa yang didukung oleh samā‘, meskipun menyalahi
qiyas, itu diterima.” Oleh karena itu, Kufah memberi sumbangan besar
terhadap perluasan data bahasa dan keragaman bentuk i‘rab yang pada akhirnya
memperkaya khazanah nahwu.
4.
Konsolidasi Istilah dan Metodologi: Ibn Jinni (w. 392 H)
Ibn
Jinni adalah tokoh penting dalam menyistematisasi kaidah ushul nahwu dalam
bentuk yang lebih teoritis. Kitab Al-Khasha’ish menjadi karya
pionir yang membahas dalil lughawi, istinbath, qiyas, samā‘, ijtihad, dan
sebagainya secara metodologis. Di sinilah muncul istilah-istilah ushul seperti:
Kitab
al-Khashā’iṣ (الخصائص) adalah karya monumental Abu al-Fath ‘Utsmān bin Jinnī
(w. 392 H), seorang linguis, nahwiy, dan ahli fonologi terkemuka dari era
pertengahan. Ia merupakan murid dari Abu ‘Alī al-Fārisī, seorang tokoh
besar aliran Bashrah yang juga pakar dalam sintaksis dan semantik. Ibnu Jinni
dikenal luas karena berhasil menjembatani antara nahwu tradisional dan kajian
filsafat bahasa, serta memperkenalkan pendekatan ilmiah yang jauh lebih
sistematis dan analitis.
Al-Khashā’iṣ terdiri dari tiga jilid besar dan termasuk kitab
paling penting dalam sejarah linguistik Arab. Judul kitab ini secara harfiah
berarti Keistimewaan-keistimewaan Bahasa (Arab), tetapi dalam praktiknya
kitab ini merupakan ensiklopedia filsafat bahasa Arab, yang membahas:
- Asal-usul bahasa,
- Kaidah-kaidah gramatika,
- Prinsip-prinsip i‘rāb dan tarkīb,
- Dalil-dalil ushul nahwu (simā‘, qiyās, ‘illah,
istiqrā’, dan ijmā‘),
- serta definisi dan filsafat istilah-istilah linguistik.
Dalam
al-Khashā’iṣ,
Ibnu Jinni berhasil menyusun dan menstandarkan istilah-istilah penting dalam
nahwu dan ushul nahwu, yang sebelumnya masih berserakan di berbagai
kitab dan riwayat. Beberapa istilah yang dikaji dan diperjelas dalam kitab ini
antara lain:
- Dilālah (الدلالة): Penunjukan makna, baik secara lafzhī maupun ma‘nawī.
Ia membagi dilālah ke dalam berbagai bentuk seperti dalālah
iltizāmiyyah, mutadhāminah, dan muṭābaqah, yang menjadi
dasar dalam teori semantik bahasa Arab.
- ‘Illah (العلّة): Sebab gramatikal atau alasan rasional di balik suatu
kaidah. Ibnu Jinni mengembangkan diskusi tentang ‘illah dengan mengaitkannya
pada qiyās dan penggunaan, serta memperdebatkan apakah ‘illah harus
rasional atau bisa juga semata berdasar samā‘.
- Samā‘ (السماع): Segala bentuk yang berasal dari ucapan orang Arab
fasih. Ia menetapkan bahwa samā‘ adalah sumber primer, dan segala teori
atau kaidah yang dibangun harus bersandar pada data samā‘ terlebih dahulu.
- Qiyās (القياس): Analogi linguistik. Ibnu Jinni membahas jenis-jenis
qiyās dan batasan penerimaannya dalam nahwu. Ia juga menyoroti kapan qiyās
boleh menyalahi samā‘ dan kapan tidak.
- Naẓm (النظم):
Susunan kalimat yang baik dan benar. Istilah ini kemudian menjadi sangat
penting dalam tafsir al-Bayān dan bahkan dalam teori balaghah al-Jurjānī.
5.
Kritik terhadap Ushul Nahwu Tradisional: Ibnu Madha’ al-Qurthubi (w. 592 H)
Ibnu
Madha’ dalam kitabnya Al-Radd ‘ala al-Nuhat mengecam keras metodologi
ushul nahwu yang dianggap terlalu berlebihan dan menyulitkan pelajar. Ia
mengusulkan pendekatan praktis dengan menyederhanakan kaidah, menghapus
takalluf, dan menolak sebagian besar qiyas yang tidak realistis. Meskipun
pandangannya kontroversial, ia membuka wacana kritik konstruktif dalam ushul
nahwu.
Nama
lengkap ibnu Madha’ adalah Muḥammad bin Muḥammad bin Aḥmad bin Maḍā’ al-Qurṭubī al-Andalusī
(w. 592 H/1196 M), seorang faqīh bermadzhab Ẓāhiriyyah dan juga ahli bahasa yang hidup di Andalus
(Spanyol Islam) pada masa kekuasaan dinasti al-Muwaḥḥidūn. Ia pernah menjabat sebagai qādī
al-quḍāt di Cordoba dan dikenal sangat
kritis terhadap pendekatan rasionalistik dalam ilmu nahwu.
Ibnu
Maḍā’ adalah pemikir reformis yang memiliki perhatian mendalam terhadap
pendidikan dan kebahasaan. Dalam bidang bahasa, ia terkenal melalui kitabnya Al-Radd
‘alā al-Nuḥāt (الرد على النحاة), yang secara harfiah berarti
"Bantahan terhadap Para Ahli Nahwu". Kitab ini menjadi manifesto
kritik terhadap metodologi dan asumsi dasar ilmu nahwu klasik, khususnya
warisan aliran Bashrah dan Kufah.
Ibnu
Maḍā’
menulis al-Radd ‘alā al-Nuḥāt sebagai respon atas kerumitan
dan kejumudan dalam gramatika Arab yang menurutnya justru menghalangi
pemahaman bahasa, al-Qur’an, dan agama secara umum. Ia menilai bahwa banyak
aspek dalam ilmu nahwu telah terlalu dipenuhi spekulasi logis,
pengandaian-pengandaian i‘rāb yang tak perlu, serta kerangka berpikir
rasionalistik yang membebani pelajar dan tak lagi relevan dengan semangat
bahasa Arab yang sederhana dan praktis.
Kritik
ini berkaitan erat dengan pendekatan madzhab Ẓāhirī yang menolak qiyās
dan takwil yang berlebihan. Ia juga didorong oleh latar sosial Andalusia, di
mana bahasa Arab sebagai bahasa pendidikan mengalami krisis keterpahaman akibat
dominasi sistem nahwu klasik yang sulit.
Kritik Ibnu Madha’ terhadap Ushul
Nahwu tradisional antara lain:
a.
Kritik terhadap Teori ‘Amil (العامل)
Ibnu
Maḍā’ dengan tegas menolak teori ‘āmil (pengaruh gramatikal) sebagai
landasan utama dalam nahwu. Menurutnya, ‘āmil adalah rekayasa akal-akalan
yang tidak pernah dikenal oleh masyarakat Arab asli dan justru tidak diperlukan
untuk memahami struktur kalimat.
“Al-‘Arab
ta‘rifūn al-ma‘ānī wa yasta‘milūna al-alfāẓ bidūni ‘ilmin bi al-‘awāmil...”
("Orang Arab mengetahui makna dan menggunakan kata-kata tanpa mengetahui
apa itu ‘āmil.")
Baginya,
hubungan antar kata dalam kalimat tidak perlu dijelaskan dengan entitas abstrak
seperti ‘āmil, karena makna dan fungsi kata dapat diketahui secara langsung
melalui konteks dan praktik. Ia menganggap bahwa ‘āmil hanyalah hipotesis
para nahwiyyīn yang membuat ilmu nahwu menjadi rumit.
b.
Kritik terhadap Taqdīr I‘rāb (تقدير الإعراب)
Ibnu
Maḍā’ juga mengkritik kebiasaan ulama nahwu yang menaksir i‘rāb (taqdīr)
ketika i‘rāb tersebut tidak tampak secara lahir. Misalnya, ketika kata berakhir
dengan huruf yang tidak bisa berubah (mabnī), namun para nahwiyyīn tetap
memaksakan adanya i‘rāb takdirī.
Menurutnya,
hal ini adalah upaya yang berlebihan dan tidak berdasar. Ia
mempertanyakan manfaat ilmiah dari i‘rāb takdirī dan menegaskan bahwa hal
tersebut justru membingungkan pelajar dan tidak berguna dalam komunikasi.
c.
Kritik terhadap Tafrī‘ (تفريع) dan Al-Qiyās (القياس)
Sebagai
seorang Ẓāhirī, Ibnu Maḍā’ menolak prinsip qiyās dalam linguistik,
khususnya yang digunakan oleh aliran Bashrah. Ia berpendapat bahwa bahasa
bukanlah sistem logika deduktif yang bisa dipaksakan pada pola-pola analogi,
tetapi lebih merupakan praktik sosial dan kebiasaan tutur.
Ia
menganggap bahwa banyak kaidah nahwu klasik adalah hasil pembiasaan qiyās
yang dipaksakan, tidak berpijak pada simā‘ dan malah menyimpang dari
pemakaian asli orang Arab.
d.
Kritik terhadap Penggunaan Istilāḥ- istilah Kompleks
Ibnu
Maḍā’ menentang penggunaan istilah-istilah rumit dan teknis seperti maf‘ūl
ma‘ah, khafḍ bī ḥarf al-jarr, na‘tu sababī, dan semacamnya.
Ia menganggap bahwa istilah-istilah ini menciptakan kebingungan lebih banyak
daripada manfaat, dan tidak dikenal oleh para penutur Arab sejati.
Ia
menyerukan agar bahasa Arab dipelajari dan diajarkan dengan pendekatan yang
sederhana dan praktis, tanpa perlu terjerat pada label dan kategorisasi
artifisial.
Ibnu
Maḍā’
tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan reformasi metodologis
dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa Arab:
- Mengembalikan bahasa ke praktik
komunikatif yang alami,
bukan sistem logis yang kaku.
- Menghapus pengajaran teori ‘āmil dan istilah-istilah teknis yang tidak diperlukan.
- Mengutamakan al-simā‘
(pengamatan langsung)
terhadap pemakaian bahasa daripada deduksi qiyās.
- Mempermudah kurikulum bahasa
Arab, agar bisa dipahami oleh
pelajar pemula tanpa harus menghafal kaidah kompleks.
Pemikiran
Ibnu Maḍā’
tergolong radikal dalam tradisi nahwu klasik, dan karena itu mendapat kritik
keras dari kalangan tradisionalis. Namun, pada masa modern, banyak pemikir
bahasa Arab yang mengapresiasi visinya dalam penyederhanaan pembelajaran
bahasa, seperti:
- Ibrāhīm Mustafā
dalam Iḥyā’ al-Naḥw,
- Tammām Ḥassān
dalam al-Lughah wa al-Tafsīr,
- serta para reformis pendidikan bahasa Arab di era
kontemporer.
Ia
dianggap sebagai pelopor gerakan “taḥrīr al-naḥw” (pembebasan gramatika
Arab) dari belenggu spekulasi dan pendekatan rasionalisme ekstrem.
Kesimpulan
Perjalanan
ilmu ushul nahwu tidak lepas dari dialektika antara tradisi dan rasionalitas,
antara empirik dan sistematis, antara tekstual dan teoritis. Dimulai dari
fondasi Khalil bin Ahmad, puncak sistematisasi oleh Sibawaih, variasi metode
Kufah, hingga refleksi filosofis Ibn Jinni dan kritik Ibnu Madha’, semuanya
menunjukkan bahwa ilmu ini bersifat dinamis dan terbuka terhadap perkembangan
metodologi keilmuan.
Salah
satu perbedaan mendasar antara Kufah dan Bashrah terletak pada cara menerima
kaidah: Bashrah berkata, “Apa yang didukung qiyas dan samā‘, itu diterima,”
sedangkan Kufah berkata, “Apa yang didukung oleh samā‘, meskipun menyalahi
qiyas, itu diterima.” Oleh karena itu, Kufah memberi sumbangan besar
terhadap perluasan data bahasa dan keragaman bentuk i‘rab yang pada akhirnya
memperkaya khazanah nahwu.
Kitab
al-Khashā’iṣ karya Ibnu Jinni bukan hanya sebuah karya nahwu, melainkan tonggak
konsolidasi istilah dan metodologi Ushul Nahwu. Ia meletakkan dasar
keilmuan yang kokoh, menjelaskan dan memperhalus konsep-konsep utama yang
menjadi pilar dalam analisis gramatikal, serta menyatukan dua kutub besar
metodologi dengan pendekatan integratif: empirisme dan rasionalisme. Ibnu Jinni
berhasil menjadikan nahwu tidak hanya sebagai ilmu hafalan kaidah, tetapi
sebagai ilmu berpikir yang mendalam dan filosofis.
Al-Radd
‘alā al-Nuḥāt karya Ibnu Maḍā’ adalah karya
penting yang menghadirkan kritik tajam dan sistematis terhadap Ushul Nahwu
klasik. Ia menolak teori ‘āmil, taqdīr i‘rāb, penggunaan qiyās yang
berlebihan, dan istilah-istilah teknis yang tidak diperlukan. Ibnu Maḍā’
mengusulkan reformasi gramatika Arab dengan pendekatan yang lebih komunikatif,
praktis, dan berbasis pada kenyataan bahasa Arab lisan. Meski kontroversial,
gagasan-gagasannya membuka pintu bagi pembaruan metodologi pengajaran bahasa
Arab hingga hari ini.
Sementara
Ibnu Jinni mengonsolidasikan Ushul Nahwu, Ibnu Maḍā’ justru
membongkarnya secara radikal. Dalam al-Radd ‘ala al-Nuḥāt, ia mengkritik
aspek-aspek pokok dalam nahwu seperti ‘āmil, taqdīr i‘rāb, dan
penggunaan istilah teknis yang dinilainya membingungkan pelajar.
Menurutnya, teori ‘āmil adalah konstruksi akal-akalan yang tidak pernah
dikenal oleh penutur Arab asli, dan justru menyulitkan orang dalam memahami
bahasa Arab.
Daftar
Pustaka
- Sibawaih. Al-Kitāb. Tahqiq: ‘Abd al-Salām Hārūn.
Beirut: Dār al-Jīl.
- Ibn Jinnī. Al-Khashā’iṣ. Tahqiq: Muhammad Ali
al-Najjar. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
- Al-Mubarrad. Al-Muqtaḍab. Beirut: Dār al-Fikr.
- Al-Farrā’. Ma‘āni al-Qur’ān. Beirut: Dār
al-Ma‘rifah.
- Ibn Madha’. Al-Radd ‘ala al-Nuḥāt. Tahqiq:
Shawqī Ḍayf. Kairo: Dār al-Ma‘ārif.
- Al-Suyūṭī. Al-Mazhar fī ‘Ulūm al-Lughah wa Anwa‘ihā.
Beirut: Dār al-Fikr.
- Al-Suyūṭī. Bughyah al-Wu‘āt fī Ṭabaqāt
al-Lughawiyyīn wa al-Nuḥāt. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.