KAIDAH DLOMIR
Lima Kaidah Dhamir dalam Penafsiran Al-Qur’an
Secara pribadi, tentu
menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kitab sakral. Melihat rentetan sejarah,
diturunkannya Al-Qur’an itu sebagai penentang bagi penyair bangsa Arab yang
terkenal mahir di bidang sastra. Tak heran, tentu prospek bahasa dalam
Al-Qur’an, tersusun dari sastra terunik akan eksistensinya yang tidak diketahui
oleh bangsa Arab sebelumnya. Maka, berbagai keindahan pasti mewarnai rangkaian
ayat, yang sebagian besar diperlukan kaidah tersendiri jika terpahami lebih
detail. Kaidah dhamir, merupakan salah di antara kaidah yang secara nilai
diproduksi ulama’ sebagai ijtihad. Bagaimana pun, hal ini terefleksi sebagai
alat untuk mengungkap isi rahasia daripada ayat di dalam Al-Qur’an.
Penggunaan
Dhamir dalam Al-Quran
Dhamir dalam bahasa
Indonesia, dinamakan dengan “kata ganti”. Tapi, dhamir juga isim ma’rifah yang mabni dan berfungsi untuk
mewakili penyebutan segala hal. Disebut mabni, karena
merupakan isim yang tidak berubah
harokat kesudahannya, baik dalam suasana rofa’, nashob, maupun jar. Jika dii’rob
melulu, tentu menempati kedudukan saja, sedangkan harokat akhir tidak berubah.
Sehingga yang pasti, dhamir secara kaidah untuk diterapkannya ke dalam
Al-Qur’an, tentu memiliki karakteristik tersendiri sebagai aturan yang
bertujuan supaya tidak terjadi adanya pengulangan dalam penyebutan kata.
Lantaran demikian, ada beberapa kaidah dhamir yang perlu dicermati dengan baik,
yakni:
Kaidah
Pertama:
اذا كان في الاية ضمير
يحتمل عوده الي اكثر من مذكوروامكن الحمل علي الجميع , حمل عليه
“Bila dalam ayat terdapat dhamir yang mungkin kembali kepada yang
lebih banyak daripada yang disebutkan, dan dapat dibawa kepada semua, maka
dibawa semuanya itu”.
Adapun contohnya,
sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا
الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan
sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (QS.
Al-Insyiqaq: 6).
Dhamir pada ayat ini adalah
(هِ) yang terdapat dalam kata (ملاقي).
Sebagian mufassir berpendapat, tempat kembalinya dhamir tersebut adalah kata (ربك). Sehingga diberi makna “kamu pasti akan bertemu Tuhanmu”.
Peristiwa bertemu dengan Tuhan, memang banyak dikemukakan dalam beberapa ayat,
sehingga pendapat di atas dapat dibenarkan.
Maka, makna ayat ini
adalah sesuai dengan tempat kembalinya dhamir yang ternyata dapat dimaknai
dengan benar. Karena sesungguhnya, setiap manusia itu akan menjumpai hasil dari
amal perbuatannya kelak di akhirat. Dan kata yang telah disebutkan, dapat
dikatakan seluruhnya benar sebagai tempat kembali dhamir pada ayat di atas.
Kaidah
Kedua:
اذا ورد مضاف ومضاف اليه
وجاء بعد هما ضمير, فالاصل عوده للمضاف
“Bila terdapat mudhaf dan mudhaf ilaih, kemudian datang dhamir,
maka hukum dasarnya adalah bahwa ia dikembalikan kepada mudhaf”.
Kaidah pokoknya adalah ketika terdapat mudhaf dan mudhaf ilaih sebelum dhamir, maka dikembalikan ke mudhaf, kecuali ada petunjuk-petunjuk lain yang
mengharuskan dikembalikan kepada mudhaf ilaih.
Sebagai contohnya, tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ
مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا
نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ
إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
Artinya: Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa
yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah
dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim: 34).
Susunan mudhaf dan mudhaf ilaih di
dalam ayat di atas, adalah (نعمة الله).
Kata (نعمة) adalah mudhaf dan kata
(الله) adalah mudhaf ilaih.
Sesudah (نعمة الله), terdapat dhamir (ها)
yang terangkai dengan (لاتحصوا). Dhamir (ها)
yang terdapat di dalam ayat tersebut, kembalinya adalah (نعمة). Karenanya, dhamir (ها)
adalah muannats dan kata (نعمة)
adalah muannats. Hal inilah yang menjadi pokok untuk
diungkapkan ayat di atas.
Kaidah Ketiga:
قد يذكر شيئان ويعود
الضمير علي احدهما اكتفاء بذكره عن الاخر , مع كون الجميع مقصودا
“adakalanya dua hal disebutkan, sedangkan dhamir kembali kepada
salah satunya, karena dipandang cukup menyebutkan salah satunya itu, sedangkan
yang dituju semuanya”.
Adapun contohnya,
sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ
جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا
أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ
كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ
وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ
الْمُسْرِفِينَ
Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang
tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).
Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir
miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-An’am: 141).
Pada ayat di atas, dhamir
yang dimaksud adalah (هُ) yang terangkai dengan kata (أكل). Sementara tempat kembalinya dhamir, dimungkinkan kepada dua
term yang sebelumnya, yakni (النحل) dan
(الزرع). Namun, dhamir yang dimaksud kaidah ini, yaitu yang terangkai
dengan kata benda dan terletak pada akhir ayat, maka tempat kembalinya adalah (الزرع). Pada ayat di atas, yang bermacam-macam buahnya adalah
tanaman.
Kaidah
Keempat:
قد يثنى الضمير مع كونه
عائدا على أحد المدكورين دون الأخر
“Adakalanya dhomir mutsanna, sedangkan kembalinya kepada salah satu
yang disebutkan itu”
Adapun contohnya,
sebagaimana yang tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:
فَلَمَّا بَلَغَا
مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ
سَرَبًا
Artinya: Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka
lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu (QS.
Al-Kahfi: 61).
Dhamir yang menjadi
persoalan dalam ayat ini adalah (هما),
yang berkaitan dengan (حوت). Dhamir (هما) dalam rangkaian kata itu merupakan kata ganti dari Musa dan
muridnya yang disebut pada ayat sebelumnya, Tempat kembali yang dimaksud pada
ayat tersebut bukan kepada keduanya, Musa dan muridnya, tetapi hanya kepada
muridnya. Hal ini dipahami dari konteks ayat bahwa yang membawa ikan itu bukan
keduanya, melainkan murid Musa.
Kaidah
Kelima:
!ذا تعاقبت الضمائر أن
يتحد مرجعها
“Bila beberapa dhamir disebutkan berurutan, hukum dasar adalah
bahwa tempat kembalinya satu”
Adapun contohnya,
sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:
وَلَمَّا جَاءَتْ
رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ
عَصِيبٌ
Artinya: Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada
Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan
dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit” (QS. Hud: 77).
Pada ayat ini, terdapat
dua dhamir (هم),
yang keduanya terangkai dengan kata (ب).
Yang pertama dikaitkan dengan kesusahan yang akan timbul dengan kaumnya yang
menyukai lelaki. Sedangkan yang kedua, dihubungkan dengan kesusahan yang muncul
dengan tamu di kala mendatanginya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar