Senin, 11 September 2023

Lima Kaidah Dhamir dalam Penafsiran Al-Qur’an

 KAIDAH DLOMIR

Lima Kaidah Dhamir dalam Penafsiran Al-Qur’an

Secara pribadi, tentu menyadari bahwa Al-Qur’an adalah kitab sakral. Melihat rentetan sejarah, diturunkannya Al-Qur’an itu sebagai penentang bagi penyair bangsa Arab yang terkenal mahir di bidang sastra. Tak heran, tentu prospek bahasa dalam Al-Qur’an, tersusun dari sastra terunik akan eksistensinya yang tidak diketahui oleh bangsa Arab sebelumnya. Maka, berbagai keindahan pasti mewarnai rangkaian ayat, yang sebagian besar diperlukan kaidah tersendiri jika terpahami lebih detail. Kaidah dhamir, merupakan salah di antara kaidah yang secara nilai diproduksi ulama’ sebagai ijtihad. Bagaimana pun, hal ini terefleksi sebagai alat untuk mengungkap isi rahasia daripada ayat di dalam Al-Qur’an.

Penggunaan Dhamir dalam Al-Quran

Dhamir dalam bahasa Indonesia, dinamakan dengan “kata ganti”. Tapi, dhamir juga isim ma’rifah yang mabni dan berfungsi untuk mewakili penyebutan segala hal. Disebut mabni, karena merupakan isim yang tidak berubah harokat kesudahannya, baik dalam suasana rofa’nashob, maupun jar. Jika dii’rob melulu, tentu menempati kedudukan saja, sedangkan harokat akhir tidak berubah.

Sehingga yang pasti, dhamir secara kaidah untuk diterapkannya ke dalam Al-Qur’an, tentu memiliki karakteristik tersendiri sebagai aturan yang bertujuan supaya tidak terjadi adanya pengulangan dalam penyebutan kata. Lantaran demikian, ada beberapa kaidah dhamir yang perlu dicermati dengan baik, yakni:

Kaidah Pertama:

اذا كان في الاية ضمير يحتمل عوده الي اكثر من مذكوروامكن الحمل علي الجميع , حمل عليه

Bila dalam ayat terdapat dhamir yang mungkin kembali kepada yang lebih banyak daripada yang disebutkan, dan dapat dibawa kepada semua, maka dibawa semuanya itu”.

Adapun contohnya, sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (QS. Al-Insyiqaq: 6).

Dhamir pada ayat ini adalah (هِ) yang terdapat dalam kata (ملاقي). Sebagian mufassir berpendapat, tempat kembalinya dhamir tersebut adalah kata (ربك). Sehingga diberi makna “kamu pasti akan bertemu Tuhanmu”. Peristiwa bertemu dengan Tuhan, memang banyak dikemukakan dalam beberapa ayat, sehingga pendapat di atas dapat dibenarkan.

Maka, makna ayat ini adalah sesuai dengan tempat kembalinya dhamir yang ternyata dapat dimaknai dengan benar. Karena sesungguhnya, setiap manusia itu akan menjumpai hasil dari amal perbuatannya kelak di akhirat. Dan kata yang telah disebutkan, dapat dikatakan seluruhnya benar sebagai tempat kembali dhamir pada ayat di atas.

Kaidah Kedua:

اذا ورد مضاف ومضاف اليه وجاء بعد هما ضمير, فالاصل عوده للمضاف

Bila terdapat mudhaf dan mudhaf ilaih, kemudian datang dhamir, maka hukum dasarnya adalah bahwa ia dikembalikan kepada mudhaf”.

Kaidah pokoknya adalah ketika terdapat mudhaf dan mudhaf ilaih sebelum dhamir, maka dikembalikan ke mudhaf, kecuali ada petunjuk-petunjuk lain yang mengharuskan dikembalikan kepada mudhaf ilaih. Sebagai contohnya, tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:

وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

Artinya: Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (QS. Ibrahim: 34).

Susunan mudhaf dan mudhaf ilaih di dalam ayat di atas, adalah (نعمة الله). Kata (نعمة) adalah mudhaf dan kata (الله) adalah mudhaf ilaih. Sesudah (نعمة الله), terdapat dhamir (ها) yang terangkai dengan (لاتحصوا). Dhamir (ها) yang terdapat di dalam ayat tersebut, kembalinya adalah (نعمة). Karenanya, dhamir (ها) adalah muannats dan kata (نعمة) adalah muannats. Hal inilah yang menjadi pokok untuk diungkapkan ayat di atas.

Kaidah Ketiga:

قد يذكر شيئان ويعود الضمير علي احدهما اكتفاء بذكره عن الاخر , مع كون الجميع مقصودا

adakalanya dua hal disebutkan, sedangkan dhamir kembali kepada salah satunya, karena dipandang cukup menyebutkan salah satunya itu, sedangkan yang dituju semuanya”.

Adapun contohnya, sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-An’am: 141).

Pada ayat di atas, dhamir yang dimaksud adalah (هُ) yang terangkai dengan kata (أكل). Sementara tempat kembalinya dhamir, dimungkinkan kepada dua term yang sebelumnya, yakni (النحل) dan (الزرع). Namun, dhamir yang dimaksud kaidah ini, yaitu yang terangkai dengan kata benda dan terletak pada akhir ayat, maka tempat kembalinya adalah (الزرع). Pada ayat di atas, yang bermacam-macam buahnya adalah tanaman.

Kaidah Keempat:

قد يثنى الضمير مع كونه عائدا على أحد المدكورين دون الأخر

Adakalanya dhomir mutsanna, sedangkan kembalinya kepada salah satu yang disebutkan itu

Adapun contohnya, sebagaimana yang tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Artinya: Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu (QS. Al-Kahfi: 61).

Dhamir yang menjadi persoalan dalam ayat ini adalah (هما), yang berkaitan dengan (حوت). Dhamir (هما) dalam rangkaian kata itu merupakan kata ganti dari Musa dan muridnya yang disebut pada ayat sebelumnya, Tempat kembali yang dimaksud pada ayat tersebut bukan kepada keduanya, Musa dan muridnya, tetapi hanya kepada muridnya. Hal ini dipahami dari konteks ayat bahwa yang membawa ikan itu bukan keduanya, melainkan murid Musa.

Kaidah Kelima:

!ذا تعاقبت الضمائر أن يتحد مرجعها

Bila beberapa dhamir disebutkan berurutan, hukum dasar adalah bahwa tempat kembalinya satu

Adapun contohnya, sebagaimana tercatat dalam firman Allah, yang berbunyi:

وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ

Artinya: Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat sulit” (QS. Hud: 77).

Pada ayat ini, terdapat dua dhamir (هم), yang keduanya terangkai dengan kata (ب). Yang pertama dikaitkan dengan kesusahan yang akan timbul dengan kaumnya yang menyukai lelaki. Sedangkan yang kedua, dihubungkan dengan kesusahan yang muncul dengan tamu di kala mendatanginya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perkembangan Ilmu Tafsir Berdasarkan Lima Tahapan Utama

Ilmu tafsir berkembang dalam sejarah Islam melalui lima tahapan utama yang disusun berdasarkan sumber dan pelakunya. Tiap tahapan memiliki k...