Senin, 11 September 2023

Penerapan Kaidah Al-Ma’na Yakhtalif bi Ikhtilaf Rasm al-Kalimah dalam Penafsiran Ayat al Quran

 KAIDAH 4

Penerapan Kaidah Al-Ma’na Yakhtalif bi Ikhtilaf Rasm al-Kalimah dalam Penafsiran Ayat al Quran

Pendahuluan

Kaidah "Al-Ma’na Yakhtalif bi Ikhtilaf Rasm al-Kalimah" mengacu pada perbedaan makna berdasarkan perbedaan penulisan (rasm) kata dalam Al-Qur'an. Ada beberapa kasus di mana perbedaan dalam rasm kata menghasilkan makna yang berbeda atau tambahan.

Pembahasan

Berikut lima contoh penerapan kaidah tersebut dalam penafsiran ayat Al-Qur'an:

1.      Ayat Tentang Perintah Taqwa

Ayat: "Dan siapakanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi..." (Q.S. Al-Anfal: 60)

Rasm: Kata "وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ" bisa dibaca "wa min ribaati al-khayli" (dan dari mengikat kuda) atau "wa min ribaat al-khayl" (dan dari pasukan berkuda).

Penerapan Kaidah: Dua bacaan ini menunjukkan bahwa Muslim harus mempersiapkan kekuatan dalam bentuk pasukan berkuda atau dengan siap mengerahkan kuda dalam peperangan.

2.      Ayat Tentang Larangan Membunuh Anak

Ayat: "Dan janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu." (Q.S. Al-Isra: 31)

Rasm: Kata "نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ" bisa dibaca "nahnu narzuquhum wa iyyakum" (Kami memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu) atau "nahnu narzuqukum wa iyyahum" (Kami memberi rezeki kepada kamu dan kepada mereka).

Penerapan Kaidah: Kedua bacaan ini menekankan bahwa Allah adalah pemberi rezeki, baik untuk orang tua maupun anak-anak.

3.      Ayat Tentang Kehidupan Dunia

Ayat: "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Imran: 185)

Rasm: Kata "مَتَاعُ الْغُرُورِ" bisa dibaca "mataa' al-ghuroor" (kesenangan yang menipu) atau "mata' al-ghurur" (perlengkapan yang menipu).

Penerapan Kaidah: Dua bacaan ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia memiliki sifat sementara dan bisa menipu.

4.      Ayat Tentang Mereka yang Terjerumus ke dalam Kesesatan

 

Ayat: "Maka barangsiapa yang Allah hendak memberi petunjuk, niscaya Dia membuka dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang Dia hendak menyesatkannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit." (Q.S. Al-An'am: 125)

Rasm: Kata "يَصْعَدُ فِي السَّمَاءِ" bisa dibaca "yasa’du fi as-samaa’" (dia mendaki ke langit) atau "yasha’adu fi as-sama’" (dia menyaksikan ke langit).

Penerapan Kaidah: Meskipun kedua bacaan memiliki nuansa yang berbeda, keduanya menekankan betapa sulit dan menyiksa kondisi seseorang yang Allah sesatkan.

5.      Ayat Tentang Melakukan Kebaikan

Ayat: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..." (Q.S. An-Nahl: 97)

Rasm: Kata "حَيَاةً طَيِّبَةً" bisa dibaca "hayaatan tayyibah" (kehidupan yang baik) atau "hayaatan tayyiban" (kehidupan yang menyenangkan).

Penerapan Kaidah: Kedua bacaan ini menekankan bahwa orang yang beriman dan melakukan amal saleh akan mendapatkan kehidupan yang baik dan menyenangkan.

Penutup

Dalam setiap contoh di atas, perbedaan dalam rasm kata memberikan makna yang berbeda atau tambahan, yang memperkaya pemahaman kita tentang ayat tersebut tanpa mengubah pesan dasarnya.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perkembangan Ilmu Tafsir Berdasarkan Lima Tahapan Utama

Ilmu tafsir berkembang dalam sejarah Islam melalui lima tahapan utama yang disusun berdasarkan sumber dan pelakunya. Tiap tahapan memiliki k...