KAIDAH 4
Penerapan Kaidah Al-Ma’na Yakhtalif
bi Ikhtilaf Rasm al-Kalimah dalam Penafsiran Ayat al Quran
Pendahuluan
Kaidah "Al-Ma’na Yakhtalif bi Ikhtilaf Rasm
al-Kalimah" mengacu pada perbedaan makna berdasarkan perbedaan penulisan
(rasm) kata dalam Al-Qur'an. Ada beberapa kasus di mana perbedaan dalam rasm
kata menghasilkan makna yang berbeda atau tambahan.
Pembahasan
Berikut lima contoh penerapan kaidah tersebut dalam
penafsiran ayat Al-Qur'an:
1.
Ayat Tentang Perintah Taqwa
Ayat: "Dan siapakanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang
kamu sanggupi..." (Q.S. Al-Anfal: 60)
Rasm: Kata "وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ" bisa dibaca
"wa min ribaati al-khayli" (dan dari mengikat kuda) atau "wa min
ribaat al-khayl" (dan dari pasukan berkuda).
Penerapan Kaidah: Dua bacaan ini menunjukkan bahwa Muslim harus mempersiapkan
kekuatan dalam bentuk pasukan berkuda atau dengan siap mengerahkan kuda dalam
peperangan.
2.
Ayat Tentang Larangan Membunuh Anak
Ayat: "Dan janganlah kamu bunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan.
Kami akan memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu." (Q.S. Al-Isra: 31)
Rasm: Kata "نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ" bisa dibaca
"nahnu narzuquhum wa iyyakum" (Kami memberi rezeki kepada mereka dan
kepadamu) atau "nahnu narzuqukum wa iyyahum" (Kami memberi rezeki
kepada kamu dan kepada mereka).
Penerapan Kaidah: Kedua bacaan ini menekankan bahwa Allah adalah pemberi
rezeki, baik untuk orang tua maupun anak-anak.
3.
Ayat Tentang Kehidupan Dunia
Ayat: "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu." (Q.S. Al-Imran: 185)
Rasm: Kata "مَتَاعُ الْغُرُورِ" bisa
dibaca "mataa' al-ghuroor" (kesenangan yang menipu) atau "mata'
al-ghurur" (perlengkapan yang menipu).
Penerapan Kaidah: Dua bacaan ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia memiliki
sifat sementara dan bisa menipu.
4.
Ayat Tentang Mereka yang Terjerumus ke dalam Kesesatan
Ayat: "Maka barangsiapa yang Allah hendak memberi petunjuk, niscaya Dia
membuka dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang Dia hendak
menyesatkannya, niscaya Dia menjadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah dia
sedang mendaki ke langit." (Q.S. Al-An'am: 125)
Rasm: Kata "يَصْعَدُ فِي السَّمَاءِ" bisa
dibaca "yasa’du fi as-samaa’" (dia mendaki ke langit) atau
"yasha’adu fi as-sama’" (dia menyaksikan ke langit).
Penerapan Kaidah: Meskipun kedua bacaan memiliki nuansa yang berbeda,
keduanya menekankan betapa sulit dan menyiksa kondisi seseorang yang Allah
sesatkan.
5.
Ayat Tentang Melakukan Kebaikan
Ayat: "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki atau perempuan
sedangkan dia beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan
yang baik..." (Q.S. An-Nahl: 97)
Rasm: Kata "حَيَاةً طَيِّبَةً" bisa
dibaca "hayaatan tayyibah" (kehidupan yang baik) atau "hayaatan
tayyiban" (kehidupan yang menyenangkan).
Penerapan Kaidah: Kedua bacaan ini menekankan bahwa orang yang beriman dan
melakukan amal saleh akan mendapatkan kehidupan yang baik dan menyenangkan.
Penutup
Dalam setiap contoh di atas, perbedaan dalam rasm kata
memberikan makna yang berbeda atau tambahan, yang memperkaya pemahaman kita
tentang ayat tersebut tanpa mengubah pesan dasarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar